Ramadan, Waktu Terbaik Mendekatkan Diri kepada Allah

RAMADAN datang setiap tahun, tapi tidak semua orang benar-benar “hadir” di dalamnya. Di tengah rutinitas yang makin padat, sebagian orang menjalani puasa sekadar menggugurkan kewajiban menahan lapar di siang hari, lalu kembali larut dalam kebiasaan lama saat malam tiba.

Wakil Ketua DPRK Sabang, H. Albina Arrahman, melihat fenomena itu sebagai tantangan utama dalam memaknai Ramadhan saat ini. Menurutnya, bulan suci ini seharusnya menjadi ruang jeda tempat manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk melihat kembali arah hidupnya.

 

“Ramadan itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Justru di sinilah kita diuji, apakah kita benar-benar berubah atau hanya menjalankan kebiasaan,” katanya.

Di banyak tempat, suasana Ramadan sering kali identik dengan keramaian pasar, berburu takjil, hingga aktivitas buka puasa bersama. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, Albina mengingatkan bahwa esensi puasa justru sering tertutup oleh hal-hal yang bersifat permukaan.

Puasa, kata dia, bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa adalah latihan kesadaran bagaimana seseorang mampu mengendalikan diri, menahan emosi, dan menjaga sikap dalam kondisi apa pun.

“Kalau siang hari kita bisa menahan lapar, tapi malamnya kita tetap mudah marah, mudah iri, atau bahkan menyakiti orang lain, berarti ada yang belum selesai dari puasa kita,” ujarnya.

Ia menilai, banyak orang menjalani Ramadan secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya secara batin. Padahal, perubahan yang diharapkan dari ibadah puasa justru terletak pada dimensi batin tersebut.

Realitas kehidupan hari ini juga tidak bisa diabaikan. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hingga persoalan sosial membuat banyak orang menjalani Ramadan dalam kondisi yang tidak ideal. Ada yang tetap harus bekerja keras dari pagi hingga sore, ada pula yang dihadapkan pada kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Dalam situasi seperti itu, Ramadan bisa terasa berat. Namun bagi Albina, justru di situlah letak maknanya.

“Ramadan tidak datang saat hidup kita sempurna. Justru di tengah kesulitan itulah kita diajak untuk lebih dekat kepada Allah,” katanya.

Ia mencontohkan, rasa lapar yang dirasakan saat puasa seharusnya menjadi pengingat bahwa masih banyak orang yang setiap hari hidup dalam kondisi serupa, bahkan tanpa kepastian berbuka. Dari situ, empati seharusnya tumbuh bukan sekadar sebagai perasaan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.

Satu hal yang juga disorot adalah pola konsumsi masyarakat selama Ramadan. Alih-alih sederhana, bulan puasa justru sering diwarnai dengan peningkatan pengeluaran, terutama untuk makanan.

Pasar-pasar menjadi lebih ramai, pilihan makanan semakin beragam, dan tidak jarang orang membeli dalam jumlah berlebihan. Ironisnya, sebagian makanan itu akhirnya terbuang.

“Ini yang sering kita lupa. Kita menahan lapar seharian, tapi saat berbuka justru berlebihan. Padahal, nilai utama Ramadan adalah pengendalian diri,” ujar Albina.

Ia menilai, kebiasaan konsumtif tersebut secara tidak langsung menggerus makna puasa. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum kesederhanaan justru berubah menjadi ajang pemenuhan keinginan.

Fenomena lain yang juga muncul adalah meningkatnya aktivitas ibadah, tetapi tidak selalu diikuti dengan perubahan perilaku. Masjid memang lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di mana-mana, namun dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai itu belum sepenuhnya tercermin.

Albina menyebut ini sebagai “formalitas spiritual” ketika ibadah dilakukan, tetapi tidak membekas dalam sikap.

“Ukuran Ramadan itu bukan seberapa banyak kita hadir di masjid, tapi seberapa besar perubahan dalam diri kita,” katanya.

Ia menegaskan, ibadah seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Jika setelah Ramadan seseorang masih mudah berkonflik, sulit memaafkan, atau tidak peduli terhadap orang lain, maka ada yang perlu dievaluasi.

Di era digital, tantangan lain datang dari distraksi yang tidak pernah berhenti. Ponsel, media sosial, dan berbagai platform hiburan membuat manusia hampir tidak memiliki waktu untuk benar-benar diam.

Padahal, kata Albina, kedekatan dengan Allah sering kali justru lahir dari keheningan.

“Sekarang ini kita terlalu sibuk. Bahkan saat Ramadan pun, waktu kita habis di layar. Padahal, kita butuh ruang sunyi untuk benar-benar merenung,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi hal-hal yang tidak perlu, setidaknya selama Ramadan. Tidak harus drastis, tetapi cukup dengan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beribadah dengan lebih khusyuk.

Di Aceh, termasuk Sabang, Ramadan juga sarat dengan tradisi mulai dari meugang, buka puasa bersama, hingga berbagai kegiatan sosial. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Namun, Albina mengingatkan agar tradisi tidak menggeser substansi.

“Tradisi itu penting, tapi jangan sampai kita lebih sibuk dengan tradisi daripada makna Ramadan itu sendiri,” katanya.

Ia menilai, tradisi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Alih-alih menyampaikan harapan yang normatif, Albina justru menekankan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat selama Ramadan. Tidak perlu perubahan besar, tetapi cukup dengan langkah kecil yang konsisten.

Mulai dari menjaga ucapan, mengurangi konflik, hingga lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal-hal kecil itu, menurutnya, justru lebih berdampak dalam jangka panjang.

“Tidak semua orang bisa langsung berubah total. Tapi kalau setiap Ramadan kita memperbaiki satu hal saja, itu sudah kemajuan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan bukan kompetisi. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain dalam hal ibadah. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi.

Pertanyaan yang sering muncul setiap tahun adalah: apa yang tersisa setelah Ramadan?

Bagi Albina, inilah ukuran sebenarnya. Jika setelah Ramadan seseorang kembali pada kebiasaan lama tanpa perubahan, maka Ramadan hanya menjadi episode singkat yang tidak meninggalkan jejak.

Sebaliknya, jika ada kebiasaan baik yang bertahan meski kecil itu sudah menjadi tanda bahwa Ramadan berhasil dijalani dengan baik.

“Ramadan itu bukan tujuan, tapi proses. Yang penting adalah apa yang kita bawa setelahnya,” katanya.

Di tengah segala dinamika kehidupan modern, Ramadan tetap menjadi ruang penting untuk kembali kepada diri sendiri. Bukan tentang seberapa ramai suasana, tetapi seberapa dalam makna yang bisa dirasakan.

Di kota kecil seperti Sabang, dengan segala kesederhanaannya, Ramadan seharusnya bisa menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Ia bisa menjadi momen untuk benar-benar berhenti, melihat ke dalam, dan seperti yang dikatakan Albina perlahan mendekatkan diri kepada Allah, tanpa banyak suara, tanpa banyak formalitas. [ADV]

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi