Katacyber.com | Tapaktuan — Keputusan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan yang secara resmi menyatakan ketidaksanggupan menangani bencana banjir dan longsor memicu gelombang kemarahan publik. Surat yang ditandatangani Bupati Mirwan MS itu dinilai sebagai langkah mundur di saat masyarakat justru membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan hadir di garis depan.
Bencana yang melanda sejumlah kecamatan telah merendam ratusan rumah, memutus akses vital, merusak fasilitas umum, dan membuat warga terisolasi berhari-hari. Namun di tengah keadaan genting itu, Pemkab Aceh Selatan justru memilih “angkat tangan” dan menyerahkan seluruh penanganan kepada pemerintah provinsi.
Keputusan itu segera memantik kritik luas, salah satunya dari salah satu pemuda Aceh Selatan, Fathan Aulia, yang menyebut pernyataan Pemkab sebagai bukti rapuhnya kepemimpinan daerah.
“Jika pemimpin sudah menyerah, lalu rakyat harus berharap pada siapa?” ujar Fathan dengan nada geram. “Ini bukan saatnya melepas tanggung jawab. Ini saatnya menunjukkan keberanian dan kehadiran di tengah rakyat.”
Menurut Fathan, apa yang dilakukan Pemkab bukan sekadar prosedur administratif, tetapi sinyal terang bahwa pemerintah daerah tidak siap menghadapi bencana yang sudah menjadi langganan tahunan. Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan aksi cepat, bukan alasan dan deklarasi ketidaksanggupan.
“Kita bicara tentang nyawa, bukan kenyamanan di balik meja kantor. Rakyat melawan bencana dengan tangan kosong, sementara pemerintah justru mundur sebelum bertindak,” kritiknya.
Fathan menutup pernyataannya dengan sindiran tajam yang mencerminkan kekecewaan publik.
“Jika rakyat yang jadi korban masih mampu bertahan, tidak ada alasan bagi pemimpinnya untuk menyerah lebih dulu.” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret dari Pemkab Aceh Selatan terkait penanganan lanjutan. Ribuan warga masih menunggu kepastian, sementara hujan diperkirakan belum sepenuhnya reda.





















































Leave a Review