Menanam Benih Cahaya di Ujung Barat: Semangat Anak Saleh Sabang Menyongsong Generasi Qur’ani

DI BAWAH langit biru Pulau Weh yang menenangkan, ratusan anak-anak berbusana muslim rapi duduk berjejer, membawa mushaf kecil dan wajah penuh harap. Mereka bukan sedang bermain atau berlibur, melainkan tengah mempersiapkan diri untuk ajang yang menjadi kebanggaan setiap keluarga di Sabang Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) tingkat Kota Sabang tahun 2025.

Kegiatan yang digelar tahunan ini bukan sekadar perlombaan membaca ayat suci. Ia telah menjelma menjadi simbol semangat keislaman, silaturahmi, dan kebersamaan lintas gampong sebuah gerakan kultural yang menanamkan nilai-nilai Qur’ani pada generasi muda sejak dini.

Tahun ini, sebanyak 390 peserta dari 18 gampong di Kota Sabang mengikuti FASI tingkat kota. Mereka adalah anak-anak terbaik hasil seleksi dari FASI gampong yang telah digelar sejak pertengahan tahun, tepat setelah Iduladha.

Usia peserta berkisar antara 5 hingga 13 tahun, berasal dari tiga tingkatan pendidikan Al-Qur’an: TKA (Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an), TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), dan TQA (Ta’limul Qur’an Lil Aulad).

“Alhamdulillah, seluruh gampong di Sabang ikut berpartisipasi. Jumlah pesertanya hampir 400 orang, termasuk para guru dan pendamping,” ujar H. Albina Arahman, Ketua BKPRMI Kota Sabang sekaligus Wakil Ketua DPRK Sabang, Minggu (12/10/2025).

Menurutnya, FASI bukan hanya ajang kompetisi, melainkan wujud nyata semangat masyarakat dalam membina anak-anak agar tumbuh dengan nilai-nilai Islam di tengah tantangan zaman.

“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya mencari juara, tetapi membentuk karakter. Anak-anak belajar disiplin, jujur, dan berakhlak dalam setiap langkahnya,” tambah Albina.

Selama beberapa hari, halaman Masjid Agung Babussalam Sabang menjadi saksi perjuangan anak-anak dalam enam cabang lomba yakni Tilawah, Tartil, Tahfidz, Pidato Islami, Azan, dan Mewarnai Islami.

Para juri yang berasal dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sabang, di bawah pimpinan Ustaz Iserullah Estehai, menilai dengan seksama setiap penampilan peserta. Tak jarang, sorak tepuk tangan dan takbir bergema saat anak-anak tampil dengan percaya diri.

Bagi yang melihatnya, momen itu bukan sekadar perlombaan. Ada keteduhan spiritual ketika suara anak-anak melantunkan ayat suci menggema di udara Sabang yang sejuk. Ada pula rasa haru ketika bocah kecil dengan suara lantang mengumandangkan azan, atau ketika peserta TPA menyampaikan pidato tentang pentingnya mencintai masjid.

“Anak-anak ini adalah harapan. Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang tak hanya cerdas akademik, tapi juga beriman. Di tengah gempuran gadget dan media sosial, kegiatan seperti ini menjadi oase.” tutur Salah satu Pendamping.

Para pemenang FASI tingkat kota menerima trophy, uang pembinaan, dan bingkisan dari sponsor utama, Bank Syariah Indonesia (BSI). Namun, nilai sebenarnya dari FASI bukan pada hadiah, melainkan pengalaman spiritual dan pendidikan moral yang mereka dapatkan.

Setiap anak yang berpartisipasi telah melalui proses panjang mulai dari belajar di TPA, mengikuti lomba di tingkat gampong, hingga tampil di tingkat kota. Perjalanan itu menanamkan nilai kerja keras, kebersamaan, dan rasa syukur.

“Kami bahagia melihat anak-anak berani tampil membawa nama gampongnya. Ini bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang belajar mencintai Al-Qur’an,” ujar Zulfikar, salah satu orang tua peserta dari Gampong Cot Bau.

Penyelenggaraan FASI di tingkat kota menjadi batu loncatan menuju ajang FASI Provinsi Aceh 2026, yang rencananya akan digelar di Aceh Tengah dan Aceh Timur. Para pemenang dari Sabang akan menjadi wakil kota di tingkat provinsi, membawa nama daerah mereka di panggung yang lebih luas.

BKPRMI Sabang telah menyiapkan program lanjutan berupa pembinaan intensif bagi para juara agar mereka memiliki kesiapan maksimal.

“Kita ingin Sabang dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena kualitas generasi Qur’ani-nya,” ujar Albina penuh semangat.

Dukungan besar juga datang dari Pemerintah Kota Sabang. Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, dalam sambutannya, menegaskan bahwa FASI memiliki peran strategis dalam menjaga identitas keislaman masyarakat Sabang.

“Pertama sekali, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia, khususnya Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah serta BKPRMI Sabang yang telah bekerja keras menyiapkan kegiatan mulia ini,” ujarnya.

Suradji menilai FASI tidak sekadar lomba, tetapi juga gerakan moral untuk membentengi anak-anak dari pengaruh negatif zaman modern. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata pelaksanaan syariat Islam yang edukatif dan menggembirakan.

“Lebih dari itu, FASI adalah investasi moral. Kita ingin anak-anak Sabang tumbuh menjadi generasi yang gemar belajar, rajin beribadah, dan berani tampil membawa nilai-nilai Islam di ruang publik,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung kegiatan serupa.

“Mari kita ramaikan masjid dengan suara anak-anak kita. Karena dari masjidlah lahir generasi terbaik bangsa.”

Suksesnya penyelenggaraan FASI tak lepas dari peran banyak pihak mulai guru ngaji, remaja masjid, tokoh masyarakat, dan para relawan. Dari persiapan hingga pelaksanaan, semangat gotong royong terasa di setiap sudut gampong.

“Ini bukan hanya acara BKPRMI, tapi acara kita semua,” kata Hendra, salah satu orang tua murid,

“Kita ingin anak-anak tahu bahwa belajar Al-Qur’an itu bukan kewajiban yang berat, tapi jalan menuju kebahagiaan.” tuturnya

Bagi panitia, setiap kali FASI digelar, ada harapan baru yang tumbuh. Harapan agar anak-anak Sabang menjadi pribadi yang kuat secara iman dan moral, serta mampu menjadi pelita di masa depan.

Suasana kebersamaan yang tercipta dalam festival ini menegaskan satu hal bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, nilai-nilai keislaman tetap menjadi nadi kehidupan masyarakat Sabang.

“Selama kegiatan berlangsung, kita bisa melihat anak-anak saling membantu, orang tua saling mendukung. Inilah makna sebenarnya dari FASI festival yang bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang menumbuhkan cinta,” ujar Albina.

FASI menjadi ruang pembinaan berkelanjutan yang melibatkan berbagai elemen. Pemerintah, lembaga pendidikan agama, hingga masyarakat berperan aktif membentuk generasi emas Sabang generasi yang unggul dalam ilmu, santun dalam perilaku, dan teguh dalam iman.

Rencana ke depan, BKPRMI Sabang bersama Dinas Syariat Islam berkomitmen memperluas kegiatan dengan menambah cabang lomba baru seperti cerita Islami, kaligrafi, dan berbagai perlombaan islami lainnya.

Di momen itu, FASI bukan lagi sekadar festival. Ia adalah pesan moral yang menembus batas ruang dan waktu, bahwa dari ujung paling barat Indonesia, Sabang terus menyalakan lentera cahaya Islam untuk generasi masa depan.

“Kita boleh kecil di peta, tapi besar dalam semangat. Dari Sabang, kita tanamkan cinta pada Al-Qur’an untuk dunia.” Kata Albina.

Penutupan FASI tahun ini berlangsung meriah. Sorak gembira bercampur haru memenuhi ruangan saat panitia mengumumkan para pemenang. Dari panggung kecil yang sederhana, nama-nama gampong disebut satu per satu seluruh gampong tampil gemilang dengan perolehan prestasi membanggakan di berbagai cabang lomba.

Namun, kejutan utama datang di penghujung acara. Setelah dilakukan rekapitulasi nilai dari seluruh cabang, Gampong Cot kembali menorehkan sejarah dengan mempertahankan gelar juara umum FASI Kota Sabang, sebagaimana keberhasilan mereka tahun lalu.

Anak-anak dari Gampong Cot bersorak penuh bangga, sementara para pendamping meneteskan air mata bahagia. Piala bergilir pun kembali mereka bawa pulang, diserahkan langsung oleh Sekretasris daerah Kota Sabang didaampingi Ketua BKPRMI Kota Sabang, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

“Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras bersama guru, orang tua, dan anak-anak yang tak pernah berhenti belajar. Namun yang paling penting, semangat ukhuwah di antara seluruh gampong adalah kemenangan sejati FASI tahun ini,” tutur Albina Arahman menutup kegiatan dengan senyum hangat. [ADVERTORIAL]

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi