Mari Kita Raih Maghfirah Allah di 10 Hari Kedua Ramadan, DPRK Sabang Ajak Hidupkan Ibadah di Seluruh Masjid

MEMASUKI fase sepuluh hari kedua Ramadan, momentum untuk meraih maghfirah atau ampunan Allah SWT terbuka luas bagi setiap muslim. Di tengah kecenderungan menurunnya semangat ibadah pada fase ini, pengurus masjid di Kota Sabang mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan kualitas ibadah, tidak hanya terpusat di Masjid Agung Babussalam, tetapi juga di seluruh masjid di lingkungan masing-masing.

Ketua DPD BKPRMI Sabang yang juga Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman, menegaskan bahwa fase pertengahan Ramadan merupakan masa penting yang sering kali terlewatkan, padahal memiliki keutamaan besar sebagai waktu pengampunan dosa.

“Kita sering melihat semangat ibadah mulai menurun di fase ini. Padahal justru di sinilah Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Ini yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam pembagian fase Ramadan yang dikenal luas, sepuluh hari pertama merupakan fase rahmat, sepuluh hari kedua adalah maghfirah, dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Setiap fase memiliki keutamaan yang tidak boleh disia-siakan, terutama pada fase kedua yang menjadi kesempatan memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri.

Menurut Albina, penguatan ibadah di fase ini tidak harus identik dengan kegiatan tertentu saja, tetapi lebih pada konsistensi dalam menjalankan amalan, seperti salat wajib berjamaah, memperbanyak doa, zikir, serta membaca Al-Qur’an.

“Ibadah di fase ini harus dijaga ritmenya. Jangan sampai menurun. Justru ini waktunya memperkuat kembali setelah sepuluh hari pertama,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbaiki kualitas ibadah sejak fase kedua.

“Kalau fase kedua ini bisa kita jaga, insyaallah kita akan lebih siap memasuki sepuluh malam terakhir yang memiliki keutamaan luar biasa,” ujarnya.

Gerakan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan. Setiap masjid didorong untuk mengaktifkan kegiatan ibadah sesuai dengan kondisi jamaah, tanpa harus bergantung pada satu pola kegiatan tertentu.

Albina menegaskan bahwa esensi ajakan ini bukan pada bentuk kegiatan, tetapi pada semangat kolektif dalam memakmurkan masjid.

“Bukan soal di mana kita beribadah, tapi bagaimana kita menghidupkan masjid. Kalau semua masjid aktif, maka suasana Ramadan akan terasa lebih kuat,” katanya.

Selain meningkatkan kualitas ibadah, penguatan aktivitas masjid juga dinilai penting dalam membangun kebersamaan masyarakat. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

“Masjid adalah pusat kebersamaan. Dari sini kita bisa membangun kekuatan sosial yang lebih baik,” ujarnya.

Albina juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, di mana setiap amalan kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Karena itu, setiap kesempatan untuk beribadah seharusnya dimanfaatkan secara maksimal.

“Ramadan ini kesempatan yang tidak datang setiap saat. Sangat disayangkan jika kita melewatkannya tanpa peningkatan ibadah,” katanya.

Ia menekankan pentingnya memperbanyak doa di fase ini, karena sepuluh hari kedua dikenal sebagai masa pengampunan.

“Perbanyak istighfar dan doa. Ini waktu terbaik untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu,” ujarnya.

Untuk mendukung aktivitas ibadah di masjid, masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi melalui donasi dan infaq. Keterlibatan ini dinilai sebagai bagian dari semangat berbagi yang menjadi ciri khas Ramadan.

“Semangat Ramadan adalah kebersamaan. Ketika masyarakat ikut berkontribusi, maka masjid akan semakin hidup,” kata Albina.

Selain itu, BKPRMI Sabang juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid. Anak muda diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga bagian dari penggerak aktivitas keagamaan.

“Kita ingin generasi muda merasa memiliki masjid. Dari situ akan lahir kepedulian untuk terus memakmurkannya,” ujarnya.

Melalui ajakan ini, diharapkan sepuluh hari kedua Ramadan tidak lagi menjadi fase penurunan semangat, tetapi menjadi titik balik untuk memperkuat ibadah sebelum memasuki fase akhir Ramadan.

Sebagai Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan keagamaan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Pada akhirnya, ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, tidak hanya untuk memperbanyak ibadah, tetapi juga untuk memperbaiki diri secara menyeluruh.

“Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk kembali dan memperbaiki diri. Jangan sampai kita melewatkannya begitu saja,” tutup Albina Arahman. [ADV]

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi