Ketua DPRA Murka Terhadap Wakil Gubernur Aceh; Mungkinkah Gubernur Aceh Mualem Dikudeta?

Dikreasikan dari berbagai sumber

Oleh Zulfata, Pemimpin Umum Media Katacyber.com

Hipotesa awalnya adalah polemik pengangkatan Plt. Sekda Aceh Al Huduri merupakan ruang bagian dari jalan menjadikan Wakil Gubenur Aceh Fadhlullah (Dek Fad) agar lebih berkuasa dari pada gubernurnya, alias alternatif jika Muzakir Manaf (Mualem) tidak dapat “dilumpuhkan”.

Tidak lebih dari tiga hari kegaduhan pengangkatan Plt. Sekda tersebut seiring viralnya SK pengangkatan yang bersagkutan. Tidak terhenti di situ, ketua DPRA Zulfadli dalam momen rapatparipurna sempat menabuh perang secara personal kepada Ketua Partai Gerindra Aceh yang kini mendampingi Mualem dalam Pemerintah Aceh, serta dilanjutkan dengan menuding Bendahara Partai Gerindra yang juga ikut terlibat dalam permainan kegaduhan tersebut.

“Pengangkatan Plt Sekda Aceh itu semuanya permainan Ketua Partai Gerindra Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh) yang juga Wakil Gubernur Aceh dan Bendahara Gerindra, T. Irsadi,” tegas Zulfadli di sela rapat paripurna DPRA, Jum’at (21/02/2025).

Komunikasi politik Ketua DPRA sedemikian semakin menyulut emosi kedua pihak partai, terutama di kalangan petinggi Partai Gerindra Aceh. Kondisi seperti ini dapat memicu perang dingin antara Partai Aceh dengan Partai Gerindra yang dianggap harmois selama 15 tahun lamanya.

Dalam politik memang hal sedemikian merupakan soal biasa, terkadang lawan jadi kawan, sebaliknya kawan jadi lawan. Slogan klasik selalu benar; tidak ada kawan yang abadi, melainkan kepentinganlah yang abadi.

Dalam rentang sejarah politik Aceh, kecenderungan konflik antara Gubernur Aceh dengan Wakil Gubernur Aceh memang rawan terjadi. Contohnya, di masa Mualem menjabat Wakil Gubernur Aceh, pernah Mualem disebut sebagai “ban serap” oleh GubernurAceh masa itu.

Demikian halnya peristiwa politik atau perang dingin yang sedang menggeliat di bawah pasukan Mualem dan Dek Fad. Dalam politik memang tak selamnya senyum dan foto bersama mengartikan berbaikan dan kompak. Tak selamanya puji-pujian di permukaan menandakan penghormatan, namun di balik semua itu ada target dan operasi politik yang sedang direncanakan dan dijalankan.

Kini, Mualem kembali ikut pelatihan semi militer di Magelang, meskipun ia disebut telah tangguh dan pernah menjadi Panglima GAM. Namun, dengan berlapang dada masyarakat Aceh hari ini menonton bahwa Mualem memang perlu disekolahkan kembali secara politik oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Parbowo Subianto.

Untuk itu, mungkinkah Mualem dan jajarannya memiliki kemampuan lebih untuk terlalu menekan pasukannya Gerindra di Aceh? Lagi-lagi Partai Aceh diuji kembali untuk belajar sejarahnya sendiri, bukankah suara lantang bukan menandakan kecerdikan? Bukankah senyum dan diam tidak selalu diartikan patuh.

Dari jawaban inilah hipotesa awal kajian politik ini akan terjawab, apakah gesekan politik  Partai Aceh dengan Partai Gerindra hari ini berakhir pada proses kudeta atau semi kudeta terhadap Gubernur Aceh Mualem? Panggung politik Aceh memang unik dan nyentrik!

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi