Anak Muda dalam Politik Kepikunan Kekuasaan

Oleh Zulfata (Ketua Umum Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh / AMMPA)

Anak muda selalu punya kekuatan dalam membangun gerakan, Serbia, Prancis, Italia, Spain, termasuk Indonesia hari ini secara tegas menolak bobroknya tatakelola kekuasaan yang jauh dari cita-cita tujuan dibentuknya negara.

Meski gerakan anak muda (2026) belum se “waw” gerakan anak muda Serbia (Gen-Z) yang berhasil menumbangkan rezim pasca berkuasa selama 14 tahun. Paling tidak anak muda Indonesia hari ini tidak diam, tidak ingin taklhuk dengan cara main pemerintah yang dengan telanjang bersikap masa bodoh dengan kritik dan aspirasi yang disuarakan anak muda dalam menyuarakan bagaimana negara ini dikelola.

Negara Indonesia hari seakan makin tampak pincang berjalan, komunikasi publik “belepotan, ngaur, asbun” demikian polesan laporan-laporan yang sampai ke telinga petinggi negara nyaris menjadi “biang kerok” tatakelola berbangsa dan bernegara. Barangkali beginilah wajah yang disebut kekuasaan negara Indonesia yang berada di fase kepikunannya. Efeknya, ada celah berbangsa dan bernegara yang tak kunjung dewasa yang dialami rakyat-pemerintah Indonesia hari ini.

2026 adalah momentum sekaligus saksi bisu betapa rakyat terjepit akibat kepikunan kekuasaan itu sendiri. Diakui atau tidak, pemerintah hari telah melanggenggkan krisis kepercayaan publik. Pidato, laporan serta data publik yang disajika pemerintah tidak terbukti secara realitis. Hal ini menyeret stiqma atau anggapan sosial politik bahwa benar pemerintah adalah penyebar hoaks tercanggih, dan mesin pencatak kemiskinan terstruktur yang akut lagi laten.

Kini, kepongahan dan kepikunan kekuasaan sedang dilabrak secara beruntun oleh anak muda di berbagai wilayah Indonesia. Misi mereka adalah satu menyelamatkan negara agar tidak terlalu jauh dari harapan seluruh rakyat Indonesia. Kritik, demonstrasi hingga pertengkaran gagasan menyelamat negara belum mendapat tempat bagi efektifnya negara dan daerah dipimpin.

Anak muda adalah ujung tombak perubahan itu sendiri. Anak muda adalah kekuatan, perlawanan, anak muda adalah pendekar ketika negara tersandra pada apa yang disebut kepikunan kekuasaan masa kini.

Dapat dibayangkan bagaimana mungkin ruang partisipatif bermakna anak muda dapat tercapai jika kekuasaan berjalan bagaikan manusia pikun? Dalam konteks inilah sejatinya petinggi negara maupun kepala daerah mesti berkaca diri secara serius terkait hendak kemana bonus demografi ini di bawa. Apakah bonus kekuatan anak muda dianggap sebagai antek-antek asing atau dikendalikan robot? Atau sebaliknya, menghormati dan mengaminkan kekuatan anak muda sebagai batu pemecah kebuntuan negara yang sedang melaju jauh berbalik adari arah cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia? Untuk itulah momen sumpah pemuda hari ini digugah, bukan untuk perayaan serimonial yang menampakkan sinyal pembungkaman demokrasi anak muda. Panjang umur untuk anak muda yang terus “melawan”.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi