Diam Ditindas atau Bergerak Melawan?

Penulis : Zuhari Alvinda Haris (Ketua Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Tentunya semangat spirit kepahlawanan tempo dulu bukan semata dijadikan ajang romantisme belaka yang tanpa ujung. Spirit kepahlawanan harus dijadikan sebuah refleksi dan pendalaman yang serius dalam menjalankan sebuah pergerakan yang masif dan berkelanjutan. Hari ini kita melihat bagaimana generasi muda dipecah belah dalam bingkai kepentingan yang tak pernah memiliki titik temu antara satu dan lainnya.

Generasi Muda hari ini sangat jauh berbeda dibandingkan generasi terdahulu yang berhasil merobohkan rezim orde baru dalam status ke sepenanggungan yang sama atas otoriternya rezim orde baru saat itu.

Kita lihat bersama bagaimana anak muda bangsa dan negara saat ini lebih cenderung menerima isu “orderan” yang dimainkan elite politik untuk menghancurkan suatu kelompok yang mereka tidak senang akannya dibandingkan bergerak atas dasar isu “murni yang dihasilkan dalam konsolidasi Kepemudaan. Seharusnya hari ini merupakan titik di mana anak muda menjadi ujung tombak dalam menentukan nasib bangsa dan negara ini dan bukan menempatkan dirinya sebagai kacung partai atau elite politik yang sedang linglung jatahnya belum bisa didapatkan dalam hasil diplomasi.

Bisa di searching kembali bagaimana bobroknya kinerja bangsa ini yang sepatutnya generasi muda harus kembali berkumpul di suatu tempat untuk memproklamirkan perlawanan kepada pemerintah yang zalim dan mungkar terhadap rakyat.

Pastinya kita menyadari bagaimana keanekaragaman kepentingan elite politik sudah menodai arah gerak anak muda saat ini. Mereka sanggup menunggangi gerakan anak muda berapapun asalkan target dan tujuannya tercapai dan anak muda sebenarnya sadar akan itu namun mereka memilih diam dan menjalankannya demi kesenangan belaka.

Dan tentunya konsekuensi yang harus dilalui adalah kehancuran gerakan sesama anak muda bangsa dengan dalih saling mencurigai satu sama lain dan pada akhirnya anak muda hari ini memilih jalannya sendiri untuk bergerak ke jalanan.

Kita patut bersyukur masih ada sebagian diantara kita yang masih menetap digaris pergerakan untuk menyuarakan keresahan masyarakat. Serbia 14 tahun merasakan makan hati dengan rezim yang berkuasa dan pada akhirnya mereka meruntuhkan rezim itu. Perancis merasakan ke-krisisan ekonomi yang menarik mereka untuk turun ke jalanan hingga melumpuhkan total pemerintahan Prancis dan pada akhirnya kekuasaan tunduk pada rakyatnya sendiri.

Kita bukan sedang menuhankan mereka yang berhasil dengan gerakannya tapi kita ingin kembali mengingatkan bagaimana ketika anak muda hari ini konsisten dan meninggalkan segala kepentingan yang ada pastinya anak muda bangsa bisa mencapai kemenangan itu sendiri.

Dan hari ini pilihan berada di jari telunjuk anak muda bangsa masing-masing mau dibawa kemana arah masa depan bangsa ini suram atau terang karena pada dasarnya yang menjaga dan merawat bangsa ini adalah generasi penerus. Terlahir sebagai anak bangsa adalah takdir maka merawat nya adalah pilihan.

Maka marilah bersatu, bergerak, dan kembali memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat untuk keberlangsungan bangsa yang kita cintai ini. Kita tidak ingin bangsa ini hancur, kita tidak ingin bangsa ini porak poranda, kita tidak ingin ke-krisisan merajalela di bumi nusantara dan Seuramo Mekkah ini, dan kita tidak ingin kemiskinan semakin meningkat tahun ke tahun.

Kita menginginkan ada penjernihan kedaulatan yang semestinya kita dapatkan, kita menginginkan kemakmuran yang hakiki. Cukup sudah kesengsaraan ini merajalela dan hari ini bangsa hanya bergantung kepada anak muda yang masih memiliki hati nuraninya dengan mengedepankan asa kemanusiaan yang adil dan beradab.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi