Oleh: M.Raafi Razzaaq
Ketua Student Union of Digital Business Universitas Insan Cita Indonesia
Belakangan ini banyak orang sedang sibuk membicarakan tentang rupiah yang melemah, harga bahan pokok yang terus naik dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit, sampai dengan gelombang PHK yang terjadi di berbagai sektor. Semuanya sadar bahwa ekonomi indonesia sedang tidak baik-baik saja, namun banyak sekali orang yang tidak sadar bahwa ada satu hal yang lebih berbahaya daripada itu semua yaitu generasi muda yang tidak sadar bahwasanya mereka sedang hidup di tengah krisis.
Kita hidup di era informasi serba cepat dan sangat mudah untuk di akses, tetapi ironis nya kesadaran sosial di kalangan generasi muda saat ini justru semakin menurun. Banyak anak muda yang lebih mengetahui trend tiktok dibanding kondisi ekonomi negaranya sendiri. Mereka sangat memahami drama artis atau influencer tapi tidak memahami harga kebutuhan pokok semakin naik, mereka mengikuti semua isu yang viral tapi tidak peduli terhadap isu yang benar-benar mempengaruhi kehidupan masa depan mereka.
Hal ini pernah disebutkan oleh Paulo Freire melalui konsep Critical Consciousness atau kesadaran kritis. Menurut Freire sendiri, masyarakat yang tidak memiliki kesadaran kritis akan cenderung menerima keadaan tanpa mempertanyakan keadaannya. Akibatnya, banyak orang yang melihat permasalahan dipermukaan. Tetapi tidak memahami akar persoalan sosial, ekonomi, maupun dinamika politik yang sebenarnya terjadi.
Masalahnya, banyak generasi muda hari ini justru kehilangan kemampuan untuk membaca realitas sosial tersebut. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tetapi minim refleksi. Media sosial membuat perhatian manusia menjadi pendek. Algoritma lebih sering mendorong hiburan dibanding edukasi. Akibatnya, banyak orang hidup dalam distraksi tanpa pernah benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Yang lebih parahnya lagi, sebagian besar generasi muda saat ini mulai menganggap bahwa masalah sosial atau ekonomi yang sedang terjadi di negara ini bukan urusan mereka. Padahal jika disadari mereka adalah kelompok yang akan paling merasakan dampak permasalahan ini di masa depan. Ketika lapangan pekerjaan yang semakin sempit, biaya hidup semakin meningkat, dan persaingan semakin keras, anak muda justru kelompok yang paling sadar terhadap keadaan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, banyak yang memilih sibuk validasi di sosial media daripada membangun kesadaran intelektual.
Kondisi ini inilah yang disebut freire sebagai bentuk masyarakat yang kehilangan daya kritis. Ketika manusia tidak lagi mempertanyakan keadaan, mereka akan terbiasa menerima kondisi sosial apa adanya. Mereka berhenti berpikir, berhenti menganalisis, dan akhirnya hanya menjadi penonton dari realitas yang sebenarnya sedang merugikan mereka sendiri.
Hal ini juga terjadi karena pakar, akademisi, dan orang-orang intelektual kalah cepat di bandingkan dengan influencer dalam menguasai ruang media sosial. Anak muda akhirnya lebih sering mendapatkan informasi dari konten singkat yang menghibur dibanding pembahasan yang mendidik. Bukan karena generasi muda tidak peduli, tetapi karena ruang digital hari ini lebih banyak dipenuhi hiburan daripada kesadaran.
Selain itu, rendahnya kesadaran kritis generasi muda juga membuat banyak orang menjadi mudah terpengaruh oleh opini yang dibangun media sosial. Hari ini, seseorang bisa dengan mudah mempercayai sebuah informasi hanya karena konten tersebut viral atau disampaikan oleh influencer yang terkenal. Padahal tidak semua yang ramai dibicarakan benar-benar berdasarkan data atau pemahaman yang mendalam. Akibatnya, masyarakat lebih mudah terpecah, mudah terbawa emosi, dan sulit membedakan mana informasi, propaganda, atau sekadar hiburan semata.
Di sisi lain, budaya instan juga ikut membentuk cara berpikir generasi muda saat ini. Banyak orang ingin memahami persoalan yang kompleks hanya melalui potongan video singkat berdurasi satu menit. Padahal persoalan sosial, ekonomi, maupun politik tidak bisa dipahami secara sederhana tanpa proses membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis. Ketika kebiasaan berpikir mendalam mulai hilang, maka kemampuan untuk memahami realitas juga ikut melemah.
Hal ini sebenarnya sangat berbahaya bagi masa depan bangsa kita. Sebab negara membutuhkan generasi muda yang bukan hanya kreatif dan melek akan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran sosial serta kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, generasi muda hanya akan menjadi konsumen informasi, bukan individu yang mampu menganalisis dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang terjadi.
Kesadaran kritis bukan berarti kita harus selalu menentang pemerintah atau terlibat dalam perdebatan di media sosial. Kesadaran kritis dimulai dari hal sederhana, peduli terhadap kondisi sekitar, mencari tahu penyebab suatu masalah, dan tidak menerima informasi mentah-mentah. Karena pada dasarnya, masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang cerdas secara akademik, tetapi juga masyarakat yang sadar terhadap realitas sosialnya sendiri.
Jika kondisi ini terus dipertahankan, maka krisis terbesar yang akan kita hadapi bukan hanya krisis ekonomi, tapi juga krisis cara berpikir. Karena bangsa yang kehilangan kesadaran kritis akan sulit memahami masalahnya sendiri. Dan masyarakat yang tidak memahami masalahnya akan mudah diarahkan, mudah dibodohi, dan sulit berkembang.
Generasi muda saat ini tidak harus menjadi aktivis atau ahli dibidang tertentu untuk peduli terhadap keadaan. Setidaknya mereka harus mulai sadar bahwa apa yang terjadi hari ini akan menentukan kehidupan mereka di masa depan. Karena perubahan besar selalu dimulai dari masyarakat yang mau berpikir, mau memahami, dan mau peduli.
Karena pada akhirnya, sebuah negara dibentuk bukan karena hanya orang-orang pintar saja tapi juga karena banyak orang-orang yang masih peduli dengan bangsa ini dan sebuah negara tidak akan hancur hanya karena krisis ekonomi tapi negara bisa hancur ketika generasi mudanya sudah hilang kepekaan terhadap realitas sosial.
























































Leave a Review