Oleh : Danu Abian Latif
Penulis 10 Buku dan Founder Sekolah Kita Menulis (SKM) Cabang Langsa
Setiap 23 April, dunia berhenti sejenak untuk mengingat bahwa peradaban pernah diselamatkan oleh tinta penulis, UNESCO menamainya World Book and Copyright Day, tanggal itu dipilih bukan tanpa alasan, pada 23 April 1616, Miguel de Cervantes dan William Shakespeare berpulang. Pada tanggal yang sama, Inca Garcilaso de la Vega juga wafat. Tiga nama, tiga benua, tiga bahasa, tapi mereka bersepakat pada satu hal: bahwa buku adalah cara manusia melawan kematian, buku membuat suara kita tetap hidup bahkan ketika napas sudah tidak ada.
Saya Danu Abian Latif merayakan World Book Day tahun ini dengan perasaan yang tidak sepenuhnya gembira. Sepuluh buku telah saya lahirkan, Jalan Buntu lahir dari kegelisahan melihat orang-orang yang merasa hidupnya sangat berat. Manusia Nol Persen saya tulis untuk mereka yang merasa tidak dianggap, tidak dihitung, tidak penting. Manusia Abstrak adalah upaya saya memahami zaman ketika identitas kita lebih nyata di layar daripada di dunia nyata. Tiga judul itu, bersama tujuh buku lainnya, adalah cara saya berdialog dengan Indonesia. Tapi dialog itu terasa pincang ketika yang diajak bicara tidak datang, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak memiliki minat budaya akan literasi.
Maka izinkan saya menggunakan World Book Day 2026 ini bukan untuk seremoni, melainkan untuk memberi sebuah fakta, kalau kita mau jujur, potret literasi Indonesia hari ini masih buram. Laporan PISA 2022 yang dirilis OECD pada Desember 2023 menempatkan skor literasi membaca siswa Indonesia di angka 359, kita berada di peringkat 71 dari 81 negara yang disurvei. Skor itu turun 12 poin dibanding PISA 2018. Sementara rata-rata negara OECD ada di 476. Artinya jarak kita dengan dunia bukan lagi tertinggal satu langkah, tapi satu putaran marathon yang sangat jauh dan sulit untuk mengejarnya.
UNESCO pada 2023 merilis angka yang lebih menampar, minat baca masyarakat Indonesia berada di 0,001%. Dari seribu orang, hanya satu yang bisa disebut rajin membaca. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2024 mencatat rasio ketersediaan buku kita 0,09 per orang, padahal standar UNESCO untuk negara berkembang adalah 3 sampai 4 buku per orang per tahun. Ikatan Penerbit Indonesia mencatat jumlah judul buku baru anjlok dari 95.000 judul pada 2019 menjadi sekitar 30.000 judul pada 2023, pandemi memang menghantam industri ini, tapi pemulihannya jauh lebih lambat dibanding sektor lain.
Apa artinya data angka-angka itu di dunia nyata? Artinya ketika saya menulis Manusia Nol Persen, saya tahu buku itu hanya akan menjangkau segelintir orang, artinya ketika toko buku di kota kecil menutup etalase, bukan hanya bisnis yang mati, tapi juga kemungkinan seorang anak menemukan dirinya di dalam satu paragraf, artinya ketika PDF bajakan Jalan Buntu beredar gratis di grup Telegram, saya tidak hanya kehilangan royalti, Indonesia kehilangan satu lagi penulis yang bisa menulis penuh waktu.
Dampak rendahnya literasi tidak berhenti di rak buku yang sepi, ia akanmerembes ke mana-mana, kita hidup di zaman ketika orang lebih percaya judul berita daripada isi berita, hoaks tumbuh subur karena kita tidak terlatih mengunyah argumen yang panjang dan kompleks. Pemilu menjadi ajang adu persepsi, bukan adu gagasan, karena sebagian besar warga tidak punya stamina membaca visi-misi setebal 50 halaman, isu kesehatan, sains, perubahan iklim, semua mudah dipelintir karena literasi sains kita rapuh.
Di dunia kerja ceritanya sama pahit, world Bank dalam laporan 2023 menyebut bahwa kesenjangan keterampilan akan membuat Indonesia kehilangan potensi 25% PDB pada 2045 jika tidak segera dibenahi. Keterampilan yang dimaksud bukan sekadar koding atau bahasa Inggris. Fondasinya adalah berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan berkomunikasi kompleks. Tiga hal itu lahir dari kebiasaan membaca teks panjang, tidak ada jalan pintas, otak yang terbiasa dengan video 30 detik akan kesulitan ketika diminta membedah laporan 30 halaman dan itu yang terjadi di banyak ruang rapat hari ini.
Saya menulis Manusia Abstrak karena melihat manusia Indonesia hari ini hidup di dua dunia, di dunia nyata dia diam. Di dunia digital dia gaduh. Tapi gaduh bukan berarti mereka paham, kita berkomentar, membagikan, menghakimi, tanpa pernah benar-benar membaca dan faham. Kita menjadi sesuatu yang abstrak, kita terasa ada tapi tidak hadir, bicara tapi tidak terasa berbicara. Tapi dengan membaca buku melatih kita untuk hadir, satu halaman meminta kita diam lima menit, satu bab meminta kita peduli pada tokoh yang tidak kita kenal, itu latihan empati yang tidak bisa digantikan oleh scrolling.
Sebagai penulis, saya tahu betul bahwa rendahnya minat baca bukan satu-satunya masalah, ekosistemnya juga sakit, bayangkan rantai ini: saya menulis naskah dua tahun. Penerbit mengkurasi, menyunting, mendesain, mencetak. Distributor mengangkut. Toko buku memajang. Setiap simpul mengambil margin, ketika buku Manusia Nol Persen dijual Rp85.000 di Jakarta, saya sebagai penulis menerima sekitar Rp8.500. Itu pun dipotong pajak. Kalau buku yang sama dikirim ke Papua, ongkos kirim bisa Rp50.000. Maka harga di sana menjadi Rp135.000, buku berubah menjadi barang mewah, sementara itu di layar HP, PDF-nya gratis, pembaca merasa untung, penulis merasa buntung dan perlahan, kita semua menuju jalan buntu.
PPN 11% untuk buku juga tidak membantu, negara memungut pajak dari barang yang seharusnya dia subsidi, di banyak negara maju, buku pendidikan dibebaskan dari pajak karena dianggap investasi peradaban, di sini buku diperlakukan sama seperti tas mewah, akibatnya penerbit takut rugi, mereka hanya mau menerbitkan nama besar atau genre yang sudah pasti laku. Penulis baru dengan ide segar tersisih. Ide-ide itu mati sebelum sempat diuji di tangan pembaca.
Sekolah yang seharusnya menjadi rumah pertama buku juga belum menjalankan perannya. Dana BOS boleh untuk membeli buku, tapi sering kalah prioritas dengan cat tembok dan seragam, jam perpustakaan diganti dengan jam tambahan pelajaran ujian. Guru Bahasa Indonesia dituntut mengejar ketuntasan kurikulum, bukan menularkan cinta membaca, murid tidak pernah melihat gurunya membaca buku di ruang guru, padahal anak-anak akan meniru, bukan terlatih menjadi produk patuh, maka mereka sampai pada pemahaman kalau orang dewasa di sekitarnya tidak membaca, mengapa mereka harus membaca?
Kita terlalu sering menyalahkan gawai, seolah-olah TikTok, Mobile Legends, dan Shopee Live adalah biang keladi matinya buku, itu produk dari narasi yang malas, di Finlandia, negara dengan skor PISA literasi tertinggi, anak mudanya juga menatap layar 7 jam sehari. Bedanya, mereka menggunakan layar untuk membaca artikel panjang, jurnal, dan novel digital, masalah kita bukan pada medianya, tapi pada kebiasaan dan mentalitasnya.
Buku menuntut sesuatu yang tidak populer hari ini yaitu esabaran, bayangkan satu buku 300 halaman meminta waktu 5 sampai 6 jam, sementara algoritma media sosial memberi kita dopamin setiap 15 detik, otak kita dilatih untuk kepuasan instan, akibatnya, banyak mahasiswa saya yang mengaku pusing membaca 20 halaman tanpa mengecek notifikasi, stamina membaca kita lumpuh dan ketika stamina lumpuh, kita mudah dikendalikan oleh siapa saja yang bisa merangkum dunia dalam satu kalimat provokatif.
Saya tidak anti digital, tiga buku saya juga terbit dalam versi ebook, yang saya lawan adalah ilusi bahwa karena semua informasi bisa kita tanya pada AI yaitu kecerdasan buatan, maka pemikiran kita tidak perlu membaca buku harus di buang, AI memang memberi kita informasi, tapi jauh dari itu buku memberi kita konteks, struktur berpikir, dan ruang untuk tidak setuju lalu merenung, itu dua hal yang berbeda.
Mari jujur membayangkan 2045, pada tahun itu kita katanya akan panen bonus demografi. Usia produktif melimpah, tapi apa jadinya jika usia produktif itu 55% hanya lulusan SMP, dengan kemampuan literasi di bawah standar? Kita tidak sedang panen, kita sedang menumpuk masalah, pengangguran, pekerja rentan, dan kemiskinan baru akan lahir dari rahim yang sama, dari momok rendahnya literasi.
Demokrasi kita juga terancam menjadi demokrasi yang cetek, warga negara yang tidak terbiasa membaca dokumen panjang akan kesulitan mengawasi pemerintah. Kebijakan publik akan mudah dibelokkan oleh opini yang viral karena literasi media kita rapuh, kita akan menjadi bangsa yang reaktif, bukan reflektif, seperti sekarang kita bisa cepat untuk marah, tapi lupa juga lebih cepat.
Yang paling menyakitkan bagi saya sebagai penulis, kita akan kehilangan cerita kita sendiri, anak cucu kita akan lebih hafal alur Webtoon Korea dan plot manga Jepang daripada legenda dari kampung halamannya, bukan karena budaya luar jahat, tapi karena kita tidak menuliskan cerita kita sendiri di dunia ekonomi kreatif, IP terbesar lahir dari buku, Harry Potter, Lord of the Rings, Bumi dari Tere Liye. Tanpa buku yang kuat, film kita akan terus mengadaptasi, game kita akan terus melisensi, dan kita selamanya menjadi pasar, bukan pencipta.
Saya menulis karena saya percaya pada satu hal: bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca, dan bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang menulis. Kita tidak bisa selamanya menjadi konsumen cerita orang lain. Kita harus menjadi produsen makna.
Saya membayangkan tahun 2045, ketika Indonesia Emas dicanangkan, emas itu bukan hanya di tambang dan di atas gedung monas, tapi emas itu harus ada ada di kepala. Di kepala yang terlatih berpikir karena terbiasa membaca. Di kepala yang berani berbeda karena terbiasa berdialog dengan ratusan penulis di dalam buku. Emas itu ada di tangan, di tangan yang terampil menulis karena sejak kecil percaya bahwa ceritanya penting untuk di baca.
Bung Karno pernah berkata, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Saya sebagai penulis menambahkan, “Dan taruh tangganya di rak buku”. Karena tanpa buku, cita-cita hanya menjadi angan. Dengan buku, angan itu punya tangga, setiap kosa kata akan menghantarkan diri kita lebih tinggi lagi menuju cita-cita kita.























































Leave a Review