Ketika Dunia di Ambang Perang Dunia Ke-3, Mengapa Ekolog Bisa Jadi Penyelamat yang Tak Disangka

Oleh: Agus Salim

Guru Besar Bidang Ekologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Pusat Kajian Biomaritim Wilayah Perbatasan dan Daerah 3T (CBM-B3T Maritime Center – Empowering the Blue Economy Maritime)

Di tengah meningkatnya ketegangan global, ancaman terjadinya Perang Dunia ke-3 (World War III/WW3) bukan lagi sekadar wacana distopia. Ketidakmampuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menjalankan fungsi utamanya dipastikan akan memperbesar risiko eskalasi konflik. Ketika PBB tidak mampu memaksa gencatan senjata, menegakkan norma hukum internasional, serta memediasi negara-negara besar, dunia perlahan kehilangan “penyangga konflik”. Akibatnya, eskalasi regional menjadi lebih mudah meluas menjadi konflik antarblok.

Konflik modern kini berkembang jauh lebih cepat dan kompleks, melibatkan teknologi seperti drone, kecerdasan buatan (AI), dan perang siber. Kondisi ini semakin mempercepat eskalasi konflik yang terjadi. Para pemimpin dunia mulai memperingatkan bahwa runtuhnya kepercayaan antarnegara, melemahnya kerja sama internasional, hingga mandeknya diplomasi multilateral membuat sistem global semakin rapuh.

Laporan terbaru dari Council on Foreign Relations mempertegas kondisi ini. Jumlah konflik antarnegara kini berada pada titik tertinggi sejak Perang Dunia II. Eskalasi terjadi di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah, Asia Selatan, hingga konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia. Lebih mengkhawatirkan lagi, risiko penggunaan senjata nuklir saat ini berada pada level tertinggi sejak era Perang Dingin, dipicu oleh perlombaan senjata dan modernisasi nuklir secara agresif oleh sejumlah negara besar.

Di tengah situasi global yang semakin meruncing tersebut, muncul satu pertanyaan penting: adakah sektor yang mampu meredakan eskalasi ketika diplomasi politik gagal? Jawabannya cukup mengejutkan, yakni para ilmuwan ekologi.

Mungkin tidak banyak yang membayangkan bahwa ekolog, para ilmuwan yang meneliti hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya justru memegang peran strategis dalam mencegah dunia terjerumus ke konflik besar. Hal ini karena banyak pemicu konflik modern berakar pada masalah lingkungan, seperti kelangkaan air, krisis pangan, kerusakan ekosistem, migrasi akibat perubahan iklim, hingga perebutan sumber daya alam. Dengan kata lain, ketegangan geopolitik hari ini tidak dapat dilepaskan dari krisis lingkungan yang semakin memburuk.

Para ekolog setidaknya memberikan tiga kontribusi penting dalam meredam ancaman konflik global. Pertama, mereka dapat menjadi radar dini terhadap krisis global. Ekolog memiliki kemampuan memetakan risiko ekologis yang berpotensi memicu konflik, seperti penyusutan sumber air, degradasi lahan pertanian, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan. Data ilmiah yang mereka hasilkan dapat menjadi alarm dini bagi pemerintah dan lembaga internasional sebelum ketegangan berkembang menjadi konflik bersenjata.

Kedua, pendekatan berbasis ekologi dapat membantu mencegah perebutan sumber daya. Pengelolaan air lintas negara, restorasi hutan, serta teknologi pertanian adaptif merupakan beberapa solusi yang dapat meredam potensi konflik akibat keterbatasan sumber daya alam. Contohnya dapat dilihat pada kerja sama pengelolaan Sungai Mekong oleh negara-negara Asia Tenggara dan Perjanjian Air Indus antara India dan Pakistan yang tetap bertahan meskipun hubungan politik kedua negara kerap memanas.

Ketiga, ketika diplomasi politik menemui jalan buntu, sains sering kali menjadi bahasa netral yang mampu mempertemukan negara-negara yang bermusuhan. Pendekatan ini dikenal sebagai environmental peacebuilding. Contohnya dapat ditemukan pada kawasan konservasi di zona demiliterisasi Korea (DMZ), taman lintas batas Great Limpopo di Afrika, hingga kolaborasi reforestasi antara Rwanda dan Republik Demokratik Kongo. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa kerja sama lingkungan mampu membuka ruang dialog di antara negara-negara yang sebelumnya terlibat konflik atau saling curiga.

Dengan meningkatnya risiko Perang Dunia ke-3 yang disebut sebagai yang tertinggi sejak Perang Dingin dunia membutuhkan sebanyak mungkin jalur de-eskalasi konflik. Dalam konteks ini, ekolog memberikan kontribusi yang bersifat preventif, ilmiah, dan melampaui batas-batas politik. Mereka menyediakan data objektif yang dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan, memperkuat kerja sama internasional, serta membantu negara-negara mengantisipasi risiko geopolitik yang muncul akibat krisis lingkungan.

Di saat lembaga global seperti PBB menghadapi tantangan legitimasi dan efektivitas, peran para ilmuwan ini justru semakin relevan. Ketika perspektif geopolitik dunia dipenuhi ancaman konflik, kita sering lupa bahwa solusi perdamaian tidak selalu datang dari meja perundingan militer atau diplomatik.

Justru melalui pendekatan ekologis, dunia memiliki peluang lebih besar untuk menghindari kesalahan strategis yang dapat memicu perang besar. Para ilmuwan ekologi, dengan pemahaman mendalam tentang hubungan antara lingkungan dan stabilitas global, pada akhirnya bisa menjadi garda depan yang secara diam-diam menjaga dunia dari jurang Perang Dunia ke-3.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi