Penulis Rahmat Maulana
Ketua HMI Komisariat STKIP Muhammadiyah Abdya
Wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela) secara geografis terletak di pinggiran barat daya Provinsi Aceh. Namun, secara struktural dan historis, Barsela bukan hanya berada di pinggiran secara spasial, melainkan juga secara ekonomi dan politik. Wilayah ini menempati posisi perifer dalam sistem pembangunan nasional yang sentralistis dan berorientasi kapital.
Meski kaya akan sumber daya alam seperti perikanan, pertanian, dan potensi ekowisata, Barsela justru kerap menjadi wilayah yang “dilihat tapi tidak diperhitungkan”. Hal ini sejalan dengan tesis para pemikir teori ketergantungan (dependency theory) seperti Andre Gunder Frank, yang menyatakan bahwa wilayah-wilayah pinggiran dalam sistem kapitalisme global akan terus bergantung pada pusat dan tidak diberi ruang untuk berkembang secara mandiri.
Masalah utama bukanlah pada ketiadaan potensi, melainkan pada struktur ketimpangan yang terus direproduksi oleh sistem ekonomi-politik kapitalistik. Tanah-tanah produktif dikuasai oleh segelintir elite, hasil laut dijual dalam skema pasar bebas tanpa perlindungan terhadap nelayan lokal, dan komoditas budaya diposisikan hanya sebagai objek konsumsi pariwisata alih-alih sebagai identitas yang harus dilestarikan dan diperkuat.
Dalam konteks ini, pemuda Barsela secara sosial telah mengalami proses alienasi (keterasingan), sebuah kondisi yang dijelaskan oleh Marx sebagai akibat dari relasi produksi kapitalis. Mereka hidup di tanah yang kaya, namun tidak merasa memiliki keterkaitan emosional maupun ideologis dengan ruang hidupnya. Pendidikan yang mereka terima pun sering kali menjauhkan mereka dari realitas lokal, menciptakan ambisi untuk “keluar” dari Barsela daripada “kembali dan membangun” Barsela.
Kapitalisme bekerja bukan hanya pada level ekonomi, tetapi juga pada level kesadaran. Ketika pembangunan daerah hanya dimaknai melalui angka-angka pertumbuhan dan investasi, maka manusia lokal terutama pemuda diabaikan dari peran utamanya sebagai subjek. Mereka hanya menjadi penonton, bahkan korban, dari transformasi ekonomi yang berorientasi pasar.
Dalam situasi ini, gagasan pemekaran wilayah menjadi provinsi baru bernama Aceh Barat Selatan (ABAS) yang sempat mencuat, patut ditinjau secara kritis. Jika pemekaran hanya menjadi proyek elite dan alat tawar politik tanpa fondasi kesadaran rakyat, maka hasilnya hanyalah duplikasi struktur timpang dan menjadi pusat baru yang tetap menindas pinggiran. Namun, jika pemekaran dimaknai sebagai upaya desentralisasi kesadaran dan pembebasan wilayah dari ketergantungan terhadap pusat, maka ini bisa menjadi momentum strategis. Dengan catatan: pemuda Barsela harus mengambil peran utama dalam merumuskan arah dan bentuk pemekaran tersebut, bukan sekadar menjadi objek dari agenda-agenda di balik meja.
Karena itu, pendekatan pembangunan Barsela ke depan tidak bisa hanya bersandar pada logika investasi dan pertumbuhan ekonomi makro. Dibutuhkan sebuah proyek kebudayaan yang mampu membangkitkan kesadaran kritis generasi muda terhadap nilai strategis wilayahnya. Ini adalah proyek kontra-hegemoni, di mana pemuda tidak lagi melihat kampung halamannya sebagai tempat untuk “menunggu bantuan”, tetapi sebagai ruang perjuangan untuk merumuskan masa depan alternatif yang lebih adil, berdaulat, dan berkelanjutan.
Kesadaran ini hanya dapat dibangun melalui proses pendidikan yang membumi, reflektif, dan membebaskan. Bukan sekadar reproduksi kurikulum formal, tetapi melalui diskursus kolektif di ruang-ruang publik lokal. Pemuda harus keluar dari narasi tunggal pembangunan dan mulai membangun narasi alternatif berdasarkan kekuatan lokal, solidaritas komunitas, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Jika pemuda Barsela terus dibiarkan menjadi bagian dari sistem produksi kapitalis yang menjadikan mereka objek, maka Barsela hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah pembangunan Aceh. Namun, jika mereka berani mengambil posisi sebagai subjek sebagai aktor perubahan yang sadar dan terlibat maka Barsela bisa menjadi contoh wilayah pinggiran yang bangkit dengan kekuatan sendiri.




















































Leave a Review