Katacyber.com | Meulaboh — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terus berupaya mencari solusi permanen untuk mengatasi persoalan genangan air yang kerap terjadi di sejumlah titik di Kota Meulaboh. Salah satunya melalui program pemasangan lubang biopori dan sumur resapan di sepanjang jalan nasional dan kawasan strategis lainnya.
Bupati Aceh Barat bersama Wakil Bupati meninjau langsung progres pekerjaan tersebut yang didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Barat, Dr. Kurdi, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Aceh Barat.
Dari total 456 titik biopori yang direncanakan, saat ini sudah terpasang 21 titik, termasuk di area depan Kantor DPRK Aceh Barat dan Lapangan Teuku Umar, dua kawasan yang selama ini rawan tergenang saat musim hujan.
Plt Sekda Aceh Barat, Dr. Kurdi, menjelaskan bahwa program pemasangan biopori ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mengelola air hujan secara alami dan ramah lingkungan.
“Pemasangan biopori ini bertujuan untuk mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah dan meminimalkan limpasan air di permukaan jalan. Dengan cara ini, potensi genangan dapat dikurangi secara signifikan,” ujar Dr. Kurdi kepada media ini pada, Jumat (24/10/2025).
Ia menambahkan, selain berfungsi menampung air, biopori juga dapat memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
“Kami berharap masyarakat ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan. Drainase yang tersumbat sampah justru memperparah genangan, bukan karena curah hujan semata,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Aceh Barat menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Dinas PUPR dalam menindaklanjuti program pengendalian genangan melalui inovasi biopori. Ia menilai, upaya ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam membangun tata kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
“Kami ingin menjadikan Meulaboh sebagai kota yang bersih, tertata, dan tangguh terhadap bencana. Program biopori ini adalah langkah kecil namun berdampak besar bagi keberlanjutan lingkungan,” ujar Bupati.
Pemerintah Aceh Barat juga berencana memperluas penerapan teknologi resapan air ini hingga ke kawasan permukiman padat penduduk, fasilitas publik, dan area perkantoran. Program ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah teknis drainase, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan menjaga lingkungan secara kolektif. Langkah ini menegaskan komitmen Pemkab Aceh Barat dalam mewujudkan kota hijau, bersih, dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengajak masyarakat untuk mendukung program tersebut dengan membuat biopori secara mandiri di pekarangan rumah masing-masing. Edukasi dan sosialisasi tentang manfaat biopori akan terus dilakukan melalui gampong-gampong agar masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga sistem resapan air.
“Kalau setiap rumah memiliki satu atau dua biopori saja, dampaknya akan sangat besar terhadap pengurangan genangan air. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” jelas Dr. Kurdi.
Bupati juga menambahkan, keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur bagi daerah lain di Aceh untuk menerapkan teknologi serupa. Ia berharap Aceh Barat bisa menjadi contoh dalam pengelolaan air hujan yang efisien, murah, dan ramah lingkungan.
“Kami ingin Aceh Barat menjadi pelopor dalam penerapan konsep kota hijau. Pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga harus memperhatikan keseimbangan alam,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menunjukkan keseriusannya dalam menanggulangi persoalan genangan dan memperkuat ketahanan lingkungan. Diharapkan, dalam waktu dekat Meulaboh benar-benar terbebas dari genangan air setiap musim hujan dan menjadi kota yang lebih nyaman untuk ditinggali. (*)


























































Leave a Review