Penulis : Zuhari Alvinda Haris (Ketua Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Miris rasanya jika dilihat kapasitas dan karakter pemimpin Aceh hari ini hanya sebatas penjual dan tukang kawin demi kesenangan semata. Diantara banyaknya program yang disusun oleh pemerintah Aceh misi “Peblo Tanoh” (Menjual Tanah) dan perbanyak istri dijadikan starting point yang unggul dalam capaian pemerintah Aceh hari ini.
Kebobrokan nyata dipertontonkan langsung kepada masyarakat Aceh bahwasanya pemerintah mengakui ke tidak sanggup-an nya dalam mengakomodir kepentingan masyarakat Aceh yang begitu kompleks. Terlalu kompleks rasanya ketika lingkaran pemerintah Aceh memilik satu misi dan satu visi yang sama sehingga tidak ada satupun diantara mereka yang memikirkan bagaimana nasib rakyat Aceh di pengungsian pasca bencana, Jadub belum merata, kedaulatan otonomi khusus di ujung tanduk bahkan permasalahan di Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan terkait pembangunan tambang masih belum selesai hingga saat ini.
Dari itu semua, kita bisa lihat bagaimana kekrisis-an kebijakan yang terus menerus diambil selama kepemimpinan Mualem Dekfad hari ini yang enggan berpihak kepada rakyat dan parahnya keputusan itu di aminkan oleh pembantu pemerintahan yakni Sekda beserta Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA).
Penulis tidak berbicara omong kosong belaka tapi ini adalah fakta yang terjadi dilapangan bagaimana pemerintah Aceh mewakili Sekda dan SKPA bersengkokol dan bekerjasama untuk mencuri dan menodai kepercayaan rakyat Aceh berulang kali. Betapa banyak Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan pemerintah Aceh selama setahun terakhir ini diawali awal Oktober 2025 hingga Mei 2026 dan tercatat 21 IUP dikeluarkan pemerintah Aceh agar korporasi mudah mengambil hasil alam alam Aceh semena-mena serta meninggalkan perusakan lingkungan membabi-buta.
Kemudian, bukan hanya IUP yang dikeluarkan Andaman yang menjadi tempat bergantungnya harapan rakyat Aceh kini sirna diambil alih oleh asing. Menariknya pemerintah Aceh memainkan pola yang indah di mana pada awalnya pemerintah Aceh berhasil menarik simpatisan rakyat Aceh untuk mempercayainya kalau mereka berada di pihak rakyat.
Ternyata, bau busuk memang tidak bisa mengendap lama-lama ujung-ujungnya ke cium juga hingga ke pelosok Aceh. Ketika pembagian jatah deal yang disepakati pemerintah Aceh dan pemerintah pusat hasilnya ialah pembagian dengan sekian persen ke kantong pribadi, dan 1 persen kepada pemerintah Aceh. Bahkan untuk mengawal hasil itu sebagai bentuk komitmen penempatan Mawardi Nur yang tidak jelas ijazah S2 nya di University of California ditetapkan sebagai kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) yang padahal ketika memimpin PT PEMA Aceh banyak ketidakjelasan anggaran, dan struktural menjadi yang alasan persetujuan untuk memberikan andaman kepada perusahaan asing itu dengan merugikan Aceh.
Namun yang lebih mengejutkan publik ialah tidak hanya pergantian jabatan tukar guling lainnya juga diberikan sebagai bentuk terimakasih mereka karena berhasil menghasut rakyat Aceh untuk menjual kekayaan alam Aceh kepada penjajah bangsa Aceh dalam bentuk persen plus wanita untuk memperbanyak istri.
Coba perhatikan kembali ditengah parahnya penanganan bencana Aceh akhir tahun 2025 kemarin Gubernur Aceh malah memilih menikah lagi dengan pengusaha muda dari Negeri Jiran dengan dalih melancarkan proyek pemerintahan daripada menyelesaikan permasalahan bencana yang tak ujung usai hingga hari ini.
Ditambah lagi dengan maraknya isu korupsi dana bencana di pertengahan tahun 2026 Sekda Aceh diduga melakukan nikah siri dengan seorang wanita muda yang bekerja di bidang kesehatan di sekitaran Kota Banda Aceh. Dan memang nyatanya karakter-karakter pemimpin Aceh hari ini tukang kawin.
Akan tetapi, rakyat Aceh tidak mudah tertipu oleh tipu muslihat pemimpin Aceh yang Tukang Kawin, beutong, Abdya, dan Samadua Aceh Selatan menolak untuk tunduk dengan pemimpin zalim yang menjual tanahnya di depan mata mereka. Perlawanan terus dilakukan sebagai simbol penolakan dan penjaga amanah indatu agar tanah dan hasil alamnya tidak diambil alih oleh korporasi biadab itu.
Hasan Tiro pernah menyampaikan “Peuseulamat uteuen Atjeh, sabab uteuen nyan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu nyang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeue.”





















































Leave a Review