Oleh: Alwan Samri, S.Pd (Ketua DPD AMMPA Simeulue)
Ketika kita berbicara sejarah, Simeulue ini bagian daripada Aceh Barat pada masanya. Dua puluh tujuh tahun lalu, tepat pada 12 Oktober 1999, sebuah harapan yang dipupuk sejak masa Kongres Rakyat Simeulue tahun 1957 akhirnya mewujud. Simeulue resmi berdiri sendiri sebagai kabupaten otonom. Inilah babak baru pembangunan dimulai.
Dua puluh tujuh musim telah berlalu. Dua puluh tujuh kali rakyat menatap peta dengan bangga. Dua puluh tujuh kali kita menyanyikan lagu syukur. Dan dua puluh tujuh kali pula kita menatap masa depan dengan harapan yang sederhana, bahwa otonomi daerah ini lahir untuk menghadirkan kebaikan bagi seluruh rakyat di pulau terluar ini.
Namun saat kita berdiri di usia yang ke-27 ini, saya mengajak kita semua untuk merefleksikan perkembangan di segala sektor di pulau ini. Mari kita berhenti sejenak. Jauh dari keramaian upacara, jauh dari deretan spanduk, jauh dari pidato-pidato indah di atas mimbar. Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Sudah sejauh mana harapan itu bersambut dengan kenyataan yang kita jalani setiap hari?
Slogan Mudah, Kesadaran Tidak Seketika
Selama dua puluh tujuh tahun ini, kita disuguhi begitu banyak kalimat indah. Apalagi di panggung-panggung kampanye, sangat nyaring kita dengar slogan-slogan indah untuk pembangunan. Seolah-olah ada harapan di pundak setiap yang mengusung slogan-slogan itu. Seolah-olah kita hampir di puncak kesejahteraan.
Secara tidak sadar, di sisi lain berjuta rupiah habis tertulis di anggaran untuk spanduk, papan nama, dan ungkapan harapan yang tertulis rapi di atas kertas kerja pemerintah. Datanglah satu visi, pergilah satu misi. Bergantilah kalimat pembuka, bergantilah pula warna lambang kebesaran. Hingga pada akhirnya, slogan-slogan pembangunan yang digaungkan kini suaranya sudah meredup, hanya sebatas janji dan suara kebohongan.
Berangkat dari realitas kehidupan di Kabupaten Simeulue, lihatlah ke ladang petani yang menunggu jalan dibangun agar hasil panennya sampai ke pasar tanpa tergerus biaya angkut yang mahal. Dengarkanlah cerita nelayan yang pulang dengan perahu kosong, berharap ada perlindungan agar hasil laut anak cucunya tetap terjaga. Perhatikanlah anak-anak muda yang cerdas dan penuh semangat, namun bertanya-tanya di mana tempat mereka berkontribusi selain berharap menjadi pegawai negeri. Saksikanlah ternak rakyat yang hilang, atau ladang yang dirusak tanpa ada penyelesaian yang nyata.
Persoalan-persoalan tersebut muncul karena ada kekacauan pembangunan yang tak kunjung terealisasi. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan lingkar, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain yang kini masih terbengkalai.
Di tengah kenyataan hidup rakyat yang sederhana itu, slogan tidak menumbuhkan padi. Kalimat indah tidak mengisi perut anak sekolah yang berjalan jauh. Spanduk tidak memperbaiki jalan yang rusak.
Slogan memang mudah dibuat. Ia bisa dirangkai dalam hitungan menit, dicetak dalam hitungan hari, dan terpasang di setiap sudut jalan raya. Namun kesadaran, itulah yang jauh lebih mahal harganya. Kesadaran bahwa setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan dan dipakai pemerintah adalah keringat rakyat. Kesadaran bahwa setiap kebijakan haruslah adil bagi yang kecil maupun yang berkuasa. Kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan peluang untuk mengeruk keuntungan segelintir orang. Itulah yang masih kita cari, dua puluh tujuh tahun kemudian.
Apa Makna Kesadaran Baru Itu?
Kesadaran baru berarti kita berhenti menyalahkan masa lalu dan mulai berani melihat kenyataan hari ini. Bahwa kekayaan Simeulue, lautnya yang luas, tanahnya yang subur, destinasi wisatanya yang menenangkan jiwa. Bukan milik pejabat yang menjabat, melainkan milik seluruh rakyat yang tinggal di pulau ini, termasuk generasi yang belum lahir kelak.
Kesadaran baru berarti kita memahami fungsi wakil rakyat bukan sekadar mendampingi pejabat memotong pita peresmian, melainkan mendampingi rakyat menyampaikan jeritan yang sering kali tak terdengar ke ruang-ruang kebijakan. Bahwa DPRK bukan mitra setara pemerintah dalam merencanakan keuntungan, melainkan pengawas yang dipilih rakyat untuk memastikan setiap langkah pemerintah tidak melenceng dari jalan kebenaran. Jika mereka lebih banyak diam daripada bersuara, lebih banyak tersenyum kepada kekuasaan daripada menangis bersama rakyatnya, maka itu bukan kebersamaan. Itu adalah pengkhianatan terhadap amanah setiap masyarakat pemilih.
Kesadaran baru berarti kita tidak lagi terbuai oleh janji manis yang diucapkan saat musim pemilihan, lalu dilupakan begitu masa jabatan dimulai. Kita belajar membandingkan apa yang dijanjikan dengan apa yang nyata terwujud. Kita belajar menanyakan ke mana perginya angka-angka besar yang tertulis di laporan anggaran, ketika pembangunan di desa kita masih berjalan lambat. Kita berani berkata: “Cukup dengan penjelasan yang berbelit-belit. Yang rakyat butuh adalah kejelasan yang sederhana dan jujur.”
Kesadaran baru juga berarti kita tidak menuntut semuanya dari orang lain, tapi mulai memperbaiki diri sendiri. Bahwa ketika kita melihat sesuatu yang salah, diam kita adalah bagian dari masalah itu sendiri. Bahwa kebenaran memang sering kali tidak populer, tapi tanpanya, pembangunan hanyalah bangunan yang berdiri di atas pasir megah dilihat, namun rapuh dihujam badai.
Dua Puluh Tujuh Tahun Bukan Garis Akhir, Tapi Titik Balik
Ada pepatah bijak: “Bukan lamanya waktu yang membuat sesuatu berarti, melainkan apa yang kita jadikan waktu itu.” Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Seorang anak lahir, tumbuh, hingga dewasa. Itulah usia Simeulue hari ini. Kita bukan lagi bayi yang harus diajari berjalan. Kita sudah cukup dewasa untuk tahu mana jalan yang benar dan mana yang keliru.
Oleh karena itu, di hari ulang tahun ke-27 ini, mari kita tidak menuntut slogan baru. Kita sudah terlalu banyak memiliki kalimat indah yang tak terwujud. Yang kita butuhkan adalah satu langkah kecil yang nyata. Satu langkah jujur dari pemimpin yang berani mengakui kekurangannya. Satu langkah berani dari wakil rakyat yang mau berdiri di garis rakyat, bukan di bayang-bayang kekuasaan. Satu langkah sadar dari setiap warga, bahwa nasib Simeulue tidak ditentukan oleh satu orang pejabat saja, melainkan oleh kesadaran kita semua untuk tidak membiarkan ketidakadilan berlalu begitu saja.
Simeulue tidak butuh kata-kata baru yang indah. Simeulue butuh perbuatan lama yang jujur yang sempat terlupakan karena terlalu sibuk menghias kata.
Di usia ke-27 ini, biarlah semangat kemerdekaan kita bukan hanya dirayakan dengan bendera yang terpasang rapi, melainkan dengan hati yang terbangun. Bahwa Simeulue adalah milik kita semua. Bahwa kesejahteraan rakyat adalah tujuan satu-satunya, bukan sekadar alasan berdirinya pemerintahan. Bahwa setiap rupiah, setiap kebijakan, setiap keputusan, harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
Simeulue tidak butuh slogan baru. Simeulue butuh kesadaran baru. Kesadaran yang menjadikan kita bangga bukan karena siapa pemimpin kita, melainkan karena kita adalah rakyat yang cerdas, kritis, dan tetap mencintai tanah kelahiran ini, apa pun yang terjadi.
Selamat ulang tahun ke-27, Kabupaten Simeulue Ate Fulawan, (Berhati Emas). Semoga pulau ini tidak hanya makmur di laporan keuangan atau di sidang-sidang paripurna. Tetapi makmur di ladang petani, makmur di perahu nelayan, makmur di rumah setiap keluarga yang sederhana. Karena di sanalah letak kemerdekaan yang sesungguhnya. Mari kita wujudkan mimpi untuk kemakmuran. Bersama rakyat, kita bisa.




















































Leave a Review