Prof. Herman Fithra dan Jejak Delapan Tahun Membangun Universitas Malikussaleh

Oleh: Muhammad Fadli
Sekretaris Umum HMI Badko Aceh/Alumni Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh

Perguruan tinggi tidak dibangun hanya dengan gedung yang megah atau angka-angka dalam laporan tahunan. Universitas dibangun oleh visi, tata kelola, sumber daya manusia, tradisi akademik, keberanian melakukan perubahan, serta kemampuan kepemimpinan membaca kebutuhan zaman.

Karena itu, ketika satu periode kepemimpinan berakhir, penting bagi publik untuk melihat kembali apa saja yang telah berubah dan berkembang selama sebuah kepemimpinan berlangsung.

Dalam konteks Universitas Malikussaleh, delapan tahun kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, S.T., M.T., IPM., ASEAN.Eng. merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan kampus yang menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi terbesar di Aceh.

Prof. Herman memimpin Unimal sejak 2018 hingga 2026. 8 Tahun masa kepemimpinan beliau terpampang sejumlah catatan mengenai perkembangan kampus selama masa kepemimpinannya.

Jika perjalanan tersebut dibaca melalui sejumlah indikator yang terukur, terlihat adanya perubahan yang cukup signifikan, baik dari sisi kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, maupun infrastruktur.

Dari PTN Satker Menjadi PTN BLU
Salah satu tonggak penting dalam masa kepemimpinan Prof. Herman adalah perubahan status Universitas Malikussaleh dari Perguruan Tinggi Negeri Satuan Kerja menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum.

Perubahan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 178 Tahun 2023. Dengan status BLU, Unimal memperoleh fleksibilitas pengelolaan keuangan untuk meningkatkan pelayanan, efisiensi, produktivitas, serta pengembangan institusi.

Bagi sebuah perguruan tinggi, perubahan status tersebut bukan sekadar perubahan administrasi. BLU menuntut tata kelola yang lebih profesional, transparan, akuntabel dan berorientasi pada hasil.

Prof. Herman sendiri menyebut perubahan tersebut sebagai babak baru dalam pengelolaan Unimal. Setelah menjadi BLU, indikator kinerja universitas juga berkembang dari sebelumnya delapan Indikator Kinerja Utama menjadi 14 indikator yang lebih komprehensif.

Akreditasi Unggul: Sebuah Tonggak Akademik
Capaian lain yang sangat penting adalah keberhasilan Universitas Malikussaleh memperoleh predikat Akreditasi Unggul dari BAN-PT pada Juli 2025.

Unimal memperoleh skor 365 berdasarkan asesmen lapangan yang dilakukan pada 10–12 Juni 2025. Penilaian tersebut mencakup sembilan aspek, antara lain tata pamong dan kerja sama, penjaminan mutu, kemahasiswaan, sarana-prasarana, keuangan, sumber daya manusia, kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan luaran.

Capaian tersebut menjadi penting karena ketika Prof. Herman mulai memimpin pada 2018, status akreditasi institusi Unimal masih berada pada kategori baik dan belum terdapat program studi yang memperoleh predikat Unggul.

Dalam perjalanannya, Unimal tidak hanya berhasil memperoleh Akreditasi Unggul pada tingkat institusi, tetapi juga terus meningkatkan jumlah program studi yang meraih predikat tersebut.

Pada Agustus 2026, Magister Teknik Sipil tercatat sebagai program studi ke-21 di Unimal yang memperoleh akreditasi Unggul.

Artinya, perubahan kualitas akademik tidak hanya berlangsung pada tingkat universitas, tetapi juga bergerak di tingkat program studi.

Pertumbuhan Guru Besar dan Penguatan SDM
Universitas yang kuat membutuhkan profesor yang kuat pula. Salah satu indikator perkembangan sumber daya manusia akademik Unimal adalah pertumbuhan jumlah guru besar.

Pada April 2026, tujuh guru besar baru Unimal dikukuhkan dari Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum serta Fakultas Teknik. Dengan penambahan tersebut, jumlah guru besar Universitas Malikussaleh mencapai 25 orang.

Angka tersebut tidak boleh hanya dibaca sebagai statistik. Guru besar merupakan salah satu komponen penting dalam pengembangan ekosistem keilmuan, penelitian, publikasi dan pembimbingan akademik.

Karena itu, pertumbuhan jumlah profesor menjadi bagian penting dari pembangunan universitas dalam jangka panjang.

Prof. Herman sendiri telah lebih dahulu memperoleh jabatan akademik profesor dalam bidang transportasi pada 2021, ketika ia masih menjabat sebagai rektor.

Dari 15 Ribu Menjadi Sekitar 29 Ribu Mahasiswa
Perkembangan institusi juga terlihat dari pertumbuhan jumlah mahasiswa. Ketika mulai memimpin pada 2018, jumlah mahasiswa Unimal berada di kisaran 15 ribu orang. Menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya, jumlah tersebut disebut telah mencapai sekitar 29 ribu mahasiswa.

Dalam catatan Dies Natalis ke-56 pada 2025, Unimal bahkan telah memiliki lebih dari 24 ribu mahasiswa, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2016.

Pertumbuhan tersebut tentu membawa konsekuensi. Semakin besar jumlah mahasiswa, semakin besar pula kebutuhan terhadap ruang belajar, laboratorium, fasilitas pelayanan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta sistem tata kelola yang mampu melayani masyarakat akademik dalam jumlah besar.

Ekspansi Program Studi
Pertumbuhan mahasiswa berjalan bersamaan dengan pengembangan program studi. Menurut catatan yang disampaikan Prof. Herman pada akhir masa kepemimpinannya, Unimal berkembang dari sekitar 37–38 program studi menjadi lebih dari 60 program studi, dan tercatat 22 Program studi di unimal sudah memperoleh akreditasi unggul.

Perkembangan ini memperluas pilihan pendidikan tinggi bagi masyarakat Aceh dan kawasan sekitarnya.

Yang juga penting, pengembangan program studi diarahkan pada kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri. Dalam proses akreditasi Unggul institusi, BAN-PT antara lain melihat pemanfaatan keunggulan lokal, sumber daya serta kebutuhan masyarakat dan industri di Aceh dan sekitarnya.

17 Gedung Baru dan Transformasi Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur menjadi bagian yang paling mudah dilihat dari perubahan fisik Unimal. Dalam refleksi akhir masa jabatannya, Prof. Herman menyebut setidaknya 17 gedung baru beserta infrastrukturnya telah dibangun selama periode kepemimpinannya.

Pembangunan tersebut merupakan bagian dari proses transformasi fisik kampus yang ditopang, antara lain, oleh Project Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). Dalam Dies Natalis 2025, Prof. Herman menyebut dukungan proyek PHLN telah terealisasi dalam pembangunan gedung-gedung baru sebagai penopang transformasi akademik Unimal.

Data inventaris gedung Unimal juga menunjukkan keberadaan berbagai fasilitas baru, termasuk gedung Teknik Informatika, Teknik Elektro, Fakultas Kedokteran, UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi, serta gedung PHLN.

Pembangunan fisik tersebut penting, tetapi ada pesan Prof. Herman yang menurut saya justru patut dicatat: membangun mungkin lebih mudah daripada merawat.

Gedung yang dibangun dengan anggaran besar harus dijaga agar menjadi fasilitas akademik yang produktif, bukan sekadar simbol pembangunan.

Menata Sistem Mutu dan Internasionalisasi
Transformasi Unimal juga terlihat dalam sistem manajemen. Pada Desember 2024, Unimal memperoleh dua sertifikasi ISO, yaitu ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu dan ISO 21001:2018 untuk Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan.

Pada tahun yang sama, Unimal juga mencatat sejumlah capaian lain. Di antaranya enam program studi memperoleh akreditasi Unggul, kerja sama dengan 20 perguruan tinggi asing, serta kedatangan 120 mahasiswa dari luar negeri. Unimal juga memperoleh predikat SAKIP A dan izin pembukaan Program Studi Profesi Insinyur.

Ini menunjukkan bahwa pembangunan universitas tidak hanya diarahkan ke dalam, tetapi juga mulai memperluas jejaring ke luar negeri.

Dosen juga didorong untuk meningkatkan kapasitas akademik melalui pendidikan doktoral di luar negeri. Pada 2025, Unimal menyebut adanya dosen yang diberangkatkan untuk melanjutkan studi S3 ke Rusia dan Cina.

Delapan Tahun dalam Perspektif Kepemimpinan
Tentu saja, delapan tahun kepemimpinan tidak boleh dibaca hanya dari sisi keberhasilan. Setiap institusi pasti memiliki tantangan, kritik, pekerjaan rumah dan target yang belum selesai. Universitas adalah organisasi yang terus berkembang sehingga capaian hari ini tidak boleh membuat institusi berhenti melakukan evaluasi.

Namun, capaian yang terukur tetap layak dicatat sebagai bagian dari sejarah institusi.

Perubahan status menjadi BLU, Akreditasi Unggul institusi, bertambahnya jumlah profesor, meningkatnya jumlah mahasiswa dan program studi, pembangunan sedikitnya 17 gedung baru, sertifikasi ISO, penguatan akreditasi program studi, serta perluasan kerja sama internasional merupakan sejumlah fakta yang dapat menjadi bahan untuk melihat perjalanan Unimal selama dua periode kepemimpinan Prof. Herman Fithra.

Dan menurut saya, di situlah ukuran kepemimpinan menjadi lebih objektif: bukan hanya pada apa yang dikatakan seorang pemimpin, tetapi pada perubahan kelembagaan yang dapat dilihat dan diukur.

Warisan yang Harus Dilanjutkan
Pada akhirnya, jabatan rektor adalah amanah yang memiliki batas waktu. Universitas jauh lebih panjang umurnya daripada seorang rektor.

Karena itu, keberhasilan seorang pemimpin perguruan tinggi bukan hanya ketika ia mampu membawa universitas mencapai target pada masa jabatannya, tetapi juga ketika ia meninggalkan fondasi yang memungkinkan pemimpin berikutnya melanjutkan dan memperbaiki capaian tersebut.

Prof. Herman Fithra telah melewati delapan tahun di kursi kepemimpinan Universitas Malikussaleh.

Dari seorang dosen yang bergabung pada 2002, kemudian menjadi profesor, hingga dipercaya memimpin universitas selama dua periode, perjalanan tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang Unimal.

Yang perlu dijaga bukanlah sekadar nama seorang rektor, melainkan keberlanjutan cita-cita Universitas Malikussaleh untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, berdaya saing, berkarakter dan memberi manfaat bagi Aceh, Indonesia, serta dunia.

Sebab pada akhirnya, seorang rektor akan meninggalkan ruang kerjanya, tetapi jejak institusi yang dibangunnya akan terus menjadi bagian dari perjalanan generasi berikutnya.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi