Oleh Zulfata (Ketua Umum Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh/DPP AMMPA)
Percaturan politik nasional dan daerah tak dapat disembunyikan, meski dibungkus rapi serta ditutup rapat, namun suara lengkingan dari dalam tetap mencuat ke publik. Berbagai konflik yang telah direncanakan kapan dibuka setelah ditutup, serta kapan dibuka dan kapan ditutup. Politik Indonesia tampaknya terbiasa bekerja sedemikian rupa. Tak ada pekerjaan politik yang usai dikerjaan. Sebaliknya, taka da kata usai terhadap politik. Berbagai peran dilakukan meski berbagai motif berulang menduplikasi diri sekedar ganti aktor di cerita yang sama antar rezim.
Deskripsi mendalam di atas adalah ilustrasi atau cerminan politik kita hari ini, publik cenderung berada diposisi sebagai penonton, terseret gelombang pasang yang sumbernya seringkali bersimpul pada titik yang sama, berputar di kalangan itu-itu saja. Parahnya, dampak sebagai korban selalu ditanggung rakyat dalam wajah kemiskinan, pengangguran dan ketidakadilan.
Dalam politik dramarturgi Indonesia hari ini, baik dibaca dari bawah maupun diulik dari atas, tampaknya kompetisi politik itu cenderung membelah diri meski mengatasnamakan koalisi. Telah tercium menyengat upaya sikut-menyikut sedang berlangsung dengan tidak menyebutnya sengaja dipertontonkan. Peta politik menuju 2029 terus dibolak-balik agar semakin jelas terlihat dalam menentukan posisi dan strategi apa yang layak untuk diterapkan di pesta kuasa 2029. Tidak keliru rasanya jika mengatakan politik Indonesia selalu prematur sebelum stabil dalam jangka waktu lima-tahunan. Meski ada yang berpendapat bahwa tak ada tahun jeda terhadap politik. Sebab tahun politik adalah tahunan itu sendiri.
Diakui atau tidak, benih-benih poros politik yang telah disemai usai pesta kuasa dimenangkan, kini telah menampakkan kecambahnya dalam bentuk konflik politik-hukum, yang sana tangkap sini, yang sini pecat yang sana, yang itu digantung, yang ini disekolahkan, yang di atas terus dirapikan, yang di bawah terus benturkan sesuai garis komando. Meski tak ada jaminan garis komando politik bermakna efektif solid dan kuat. Pertahanan politik punya celah sendiri undak dapat dibobol lawan.
Pendulum politik terus berayun, terkadang membentur fondasi politik daerah, terkadang melenting balik mengguncang bantul politik pusat. Tarik ulur politik pusat dan daerah tak pernah berhenti, namun tak pernah putus. Sikap politik Indonesia yang terus “menua” telah menciptakan dinamika politik selalu dinamis hingga kekuatan demokrasi kehilangan arahnya. Sejarah selalu berulang, namun pembelajarannya selalu pahit di bawah, manis dan subur ke atas. Politik injit-injit semut tidak selalu membuka ruang bagi kelas bawah untuk naik kelas, justru yang terjadi adalah fraqmentasi kronis antara kelas sosial yang selalu dibentur dan mengoyak ketimpangan yang terus melebar dari waktu ke waktu.
Lantas bagaimana publik tidak patah harapan di tengah jalan? Perjuangan rakyat mesti terus dikobarkan meski lapak main politik sudah dirancang oleh kalangan atas, pilihan sudah diatur, koalisi secara politik tidak jujur memprioritaskan masyarakat sebagai korban penyalahgunaan, melainkan bagaimana melanggengkan kroni kekuasaan.
Seiring dengan itu, publik dapat mengambil celah berbuat di tengah benturan politik antar poros yang pernah dianggap berjasa di 2024. Semua gerbong politik terus berupaya menentukan sikap untuk berlabuh ke poros telah dirawat. Konflik kuasa selalu memiliki magnet atau daya pikat bagi publik yang hendak menumpangkan daya juang harapannya, tentunya dengan sikap yang penuh pertimbangan agar tak terjebak pada politik pemberi harapan palsu. Janji tinggal janji.
Mesin waktu politik hari ini telah berjalan begitu cepat, propaganda benturan dua kuasa politik hari ini telah menggetarkan politik daerah yang kian tak menentu. Di permukaan, daerah salahkan pusat, di belakang, daerah “mentuankan” diri pada pusat. Sebalikya, di pusat menyalahkan daerah, di waktu bersamaan, pusatlah yang merawat politik daerah hingga sedemikian rupa.
Analisa politik ini memang terkesan abstrak, namun tidak bagi kalangan yang melek politik dan cekatan membaca peluang politik. Sehingga analisa yang dibangun dalam kajian ini akan konkret jika kompleks mengumpulkan informasi, cakap memilih dan memilah fakta kompetisi politik yang sedang berlangsung hari ini.
Momentum 2027 ini nyata terlihat, mesin kuasa rakyat berupa partai politik sedang bersolek sedemikian rupa. Demikian juga mesin politik yang tak terlihat juga sedang dirancang untuk menjadi penumpang gelap politik. Atas dasar itulah melalui garis waktu menjelang 2027 bukanlah hari-hari yang kosong, melainkan adalah hari-hari anak tangga yang terus dipasang menuju 2029. Pertanyaan lanjutannya, sampai kapan rakyat terus menjadi penonton dan ikut arus kuasa yang semakin ugal-ugalan dan terasa jauh dari cita-cita bangsa ini didirikan?





















































Leave a Review