SABANG yang selama ini dikenal luas sebagai surga wisata bahari dengan panorama laut biru dan terumbu karang yang menakjubkan, ternyata juga menyimpan pesona alam lain yang tak kalah memukau. Di Desa Jaboi, Kecamatan Sukajaya, berdiri megah Gunung Berapi Jaboi, salah satu destinasi wisata panas bumi yang menawarkan keunikan geotermal dan pengalaman petualangan alam yang jarang ditemukan di tempat lain.
Terletak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Sabang, Gunung Jaboi memiliki ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut (mdpl), menjadikannya destinasi ideal bagi wisatawan maupun pendaki pemula yang ingin merasakan sensasi menjelajahi kawasan vulkanik aktif. Di sepanjang jalur pendakian, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan tropis yang masih asri, diiringi suara alam dan aroma khas belerang yang semakin terasa saat mendekati area kawah.

Setibanya di puncak, keindahan alam terbuka begitu memukau. Dari sini, wisatawan dapat melihat langsung fumarol, yaitu celah di tanah yang mengeluarkan uap panas dan gas dari perut bumi, serta kolam lumpur vulkanik yang terus aktif menggelegak. Pemandangan ini memberikan sensasi berbeda perpaduan antara kekuatan alam dan keajaiban geologi yang hidup di bawah tanah.
“Gunung Jaboi adalah salah satu ikon wisata alam terpenting di Pulau Weh. Aktivitas vulkaniknya yang masih aktif menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara,” ujar Dayat, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jaboi.

Menurutnya, berkunjung ke Gunung Jaboi bukan hanya tentang mendaki, melainkan juga merasakan secara langsung kekuatan alam yang bekerja di bawah permukaan bumi.
“Berdiri di dekat fumarol dan merasakan panas bumi yang keluar dari tanah adalah pengalaman yang benar-benar berbeda. Ini membuat pengunjung semakin kagum akan kekuasaan alam,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRK Sabang, h. Albina Arahman, menilai bahwa Gunung Jaboi memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata unggulan di Pulau Weh.
“Gunung Jaboi bukan hanya objek wisata alam, tetapi juga sumber edukasi geologi dan lingkungan yang berharga. Pemerintah daerah bersama DPRK akan terus mendorong pengembangan kawasan ini melalui peningkatan infrastruktur, promosi wisata berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat lokal,” ujar Albina.
Ia menegaskan, pengembangan destinasi wisata seperti Gunung Jaboi harus tetap memperhatikan prinsip kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem.
“Kami ingin Sabang dikenal tidak hanya karena lautnya yang indah, tetapi juga karena kekayaan alam daratan yang luar biasa, termasuk potensi panas bumi Jaboi,” lanjutnya.
Meski termasuk gunung berapi aktif, Gunung Jaboi dalam status aman untuk dikunjungi. Pemandu lokal selalu siap memberikan edukasi mengenai fenomena vulkanik, memastikan wisatawan dapat menjelajah dengan aman. Wisatawan juga diingatkan agar tidak mendekati area fumarol tanpa pengawasan, demi keselamatan bersama.

Selain wisata geotermal, Desa Jaboi menawarkan berbagai aktivitas menarik lain. Wisatawan bisa mencoba ATV Adventure di sekitar hutan Jaboi, panahan wisata, hingga pemandian air panas alami yang diyakini dapat menyegarkan tubuh setelah mendaki. Bagi penggemar petualangan, tersedia juga Jaboi Camping Ground, tempat ideal untuk menikmati suasana malam dengan latar suara alam yang menenangkan.
Desa Jaboi juga aktif mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Produk-produk lokal seperti Bakpia Cut Intan, kerajinan dari rotan dan batok kelapa, serta souvenir khas Sabang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
“Kami berusaha agar wisata di Jaboi tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Dayat.
Kehadiran wisatawan yang terus meningkat berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Banyak warga kini membuka usaha kecil, mulai dari penyewaan kendaraan, warung makan, hingga homestay bernuansa alam. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana pariwisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

Tak hanya menarik secara visual, Gunung Jaboi juga sarat nilai edukatif. Para wisatawan dapat belajar tentang proses vulkanisme, geotermal, dan bagaimana masyarakat sekitar beradaptasi serta hidup berdampingan dengan alam aktif.
Pengakuan nasional pun telah diraih. Desa Jaboi masuk nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, mewakili Provinsi Aceh. Desa ini berhasil menembus 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia dari total 615 peserta selain itu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Serbuk Jaboi berhasil meraih Penghargaan Terbaik terbaik pada ajang Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2025 yang di gelar oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Capaian tersebut menandai keberhasilan masyarakat Jaboi dalam mengelola potensi alam sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Sabang mampu mengelola pariwisata dengan bijak dan berkelanjutan. Desa Jaboi menjadi contoh bagaimana potensi alam bisa dikelola untuk kemaslahatan bersama tanpa merusak lingkungan,” ujar Albina Arahman menegaskan.
Ia berharap ke depan, pengembangan wisata Jaboi dapat dipadukan dengan promosi wisata tematik seperti geowisata, eduwisata, dan ekowisata, agar semakin banyak wisatawan datang bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga belajar dan berkontribusi terhadap pelestarian alam Sabang.

Dengan panorama kawah aktif, udara pegunungan yang segar, dan keramahan masyarakatnya, Gunung Jaboi menawarkan pengalaman wisata yang komplet: petualangan, pengetahuan, dan keindahan alam yang autentik. Dari mendaki jalur vulkanik, menikmati uap panas bumi, hingga beristirahat di pemandian air panas alami, setiap langkah di Jaboi memberikan kesan mendalam tentang kekuatan dan keindahan bumi Sabang.

Gunung Jaboi bukan sekadar destinasi wisata, tetapi simbol keseimbangan antara manusia dan alam harmoni yang menjadi kekuatan sejati dari Sabang, ujung barat Indonesia. [ADVERTORIAL]






















































Leave a Review