Katacyber.com | Meulaboh – Tradisi membuat kue Apam tidak hanya dilakukan dalam penyambutan bulan suci Ramadhan, beda halnya dengan Ibu-ibu lingkungan empat warga Gampong Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Pembuatan Kue Apam menjadi suatu tradisi dalam mengenang korban peristiwa Tsunami Aceh pada tahun 2004 silam.
Pembuatan kue Apam yang dilaksanakan di halaman Mushalla lingkungan empat desa setempat itu, digelar dengan tujuan untuk merawat budaya serta merefleksi pasca kejadian gempa bumi dan tsunami Aceh khususnya Gampong Ujong Kalak.
Selain zikir dan do’a bersama yang merupakan kebiasaan warga dalam mengekspresikan rasa dukanya, pembuatan kue Apam menjadi suatu nilai kekompakan, kebersamaa dan karaktristik kebudayaan warga setempat sebagi wujud untuk mengenang masa pilu pasca Tsunami.
“Kegiatan membuat kue Apam hari ini dalam rangka mengenang 20 tahun terjadinya musibah gempa bumi dan tsunami Aceh khususnya warga Ujong Kalak dan umumnya Aceh Barat,” sebut Bu Cut kepada KataCyber saat diwawancarai di Meulaboh, Kamis (26/12/2024).

Bu Cut mengatakan kegiatan membuat kue Apam tersebut merupakan salah satu tradisi warga setempat dan juga dibeberapa desa lain di Aceh Barat. “Membuat kue Apam tidak hanya sekededar menghidangkan dan menikmati makanan, namun ada nilai kebersamaan dan kekompakan serta rasa kekeluargaan antar sesama,” tuturnya.
Lanjutnya, pembuatan kue Apam di setiap tanggal 26 Desember ini menjadi momen sejarah yang dimana pasca kejadian Tsunami Aceh kita berkumpul bersma-sama, sebab banyak tempat tinggal yang sudah rubuh akibat gempa bumi dan gelombang tsunami.
“Berjalannya kegiatan kita ini dikarenakan adanya kebersamaan dari warga, kemudian kita juag dibantu dari orang-orang yang bersedekah sehingga dapatlah kita laksanakan pembuatan kue Apam,” ucap Bu Cut.
Kemudian, kata Bu Cut, setelah kita masak kue Apam, makanan kita nikmati bersama warga serta tamu-tamu yang hadir pada kegiatan ini.
“Dahulu bentuk dari ukuran Apam sendiri lebih besar, namun untuk saat ini dibuat dalam ukuran kecil sehingga mudah dimakan dan tidak bersisa nantinya,” kata Bu Cut.
Bu Cut dalam penyampainya berpesan kepada generasi muda Aceh Barat agar kiranya dapat merawat tradisi ini, sebab dalam tradisi tersebut tersimpan nilai kekeluargaan dan kebersamaan atas hilangnya beberapa keluarga saat peristiwa tsunami.
“Pesan saya kepada generasi muda selalu menjaga tradisi ini, sebab tradisi ini menyimpan nilai rasa kekeluargaan, artinya jika ada keluarga kita yang menjadi korban tsunami dulu, maka oarang-orang yang disekitar kita adalah penggantinmya sebagai keluarga baru,” ucap Bu Cut dengan penuh rasa pilu.
Ia menambahkan, kemudian juga jangan lupa untuk selalu mengingat Allah dikarenakan musibah kita tidak tahu kapan datang dan kita sedang berada di mana, sehingga dengan kita mengingat Allah bisa menambah keimanan dan kesadaran kita tentang berbuat kebaikan dan meningkatkan ketakwaan.


























































Leave a Review