Papua Juga Indonesia

Oleh: Danu Abian Latif, S.Pd.
Penulis Buku Opini Nakal untuk Indonesia

Papua bukan hanya tentang hutan yang terbakar, konflik yang meledak, atau kekayaan alam yang terus dibicarakan. Papua adalah tentang manusia yang setiap hari menjalani kehidupan di tengah berbagai keterbatasan. Di balik luasnya tanah dan besarnya potensi sumber daya alam, masih ada masyarakat yang berhadapan dengan kemiskinan, mahalnya kebutuhan pokok, sulitnya transportasi, keterbatasan listrik, serta akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan persoalan tersebut bukan sekadar narasi. Pada Maret 2025, tingkat kemiskinan di Provinsi Papua mencapai 19,16 persen. Di Papua Tengah mencapai 28,90 persen, sedangkan Papua Pegunungan mencapai 30,03 persen. Angka ini memperlihatkan bahwa pembangunan di Tanah Papua masih menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Persoalannya menjadi ironis ketika Papua dikenal sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam. Tanahnya menghasilkan kekayaan, tetapi sebagian masyarakat masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kekayaan alam seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa besar nilai ekonomi yang keluar dari Papua, tetapi juga dari berapa besar manfaat yang kembali kepada masyarakat Papua.

Kesenjangan itu juga terlihat dalam akses listrik. Rasio elektrifikasi Tanah Papua memang telah mencapai 97,53 persen pada akhir 2024, sebuah kemajuan yang patut diapresiasi. Namun masih terdapat desa yang belum berlistrik di sejumlah provinsi di Tanah Papua. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar terus berjalan, tetapi pekerjaan pemerataan belum selesai.

Papua juga menghadapi persoalan geografis yang membuat biaya hidup dan mobilitas menjadi lebih mahal. Jarak antarkampung, kondisi medan, serta keterbatasan konektivitas menyebabkan distribusi barang dan perjalanan masyarakat membutuhkan biaya besar. Pada akhirnya, masyarakat Papua membayar mahal bukan hanya untuk barang, tetapi juga untuk jarak.

Pendidikan menjadi persoalan lain yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Anak-anak Papua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Namun kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas membuat kesempatan tersebut belum selalu tersedia secara merata. Ketika seorang anak harus menghadapi hambatan transportasi, keterbatasan guru, fasilitas belajar, listrik, atau akses internet, maka persoalannya bukan lagi sekadar pendidikan itu adalah persoalan kesempatan hidup.

Pembangunan Papua tidak cukup diukur dari berapa banyak jalan yang dibangun, berapa besar investasi yang masuk, berapa banyak sekolah yang berdiri, atau berapa persen wilayah yang telah mendapatkan listrik. Semua itu penting, tetapi ukuran paling sederhana tetap berada pada kehidupan masyarakat: apakah mereka lebih mudah mendapatkan pendidikan, apakah kebutuhan pokok semakin terjangkau, apakah transportasi semakin mudah, apakah layanan kesehatan semakin dekat, dan apakah mereka memiliki kesempatan ekonomi yang layak.

Papua tidak kekurangan potensi yang menjadi persoalan adalah bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat. Masyarakat Papua tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil untuk berkembang di tanahnya sendiri. Mereka membutuhkan pendidikan yang layak, infrastruktur yang memadai, konektivitas yang membuka pasar, serta ekonomi yang memberikan ruang bagi masyarakat lokal untuk menjadi pelaku pembangunan.

Karena itu, ketika Indonesia berbicara tentang pembangunan, Papua tidak boleh ditempatkan sebagai catatan kaki. Ketika Indonesia berbicara tentang Indonesia Emas 2045, anak-anak Papua harus berada di dalam cerita tersebut mereka harus memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan masa depan.

Kalimat itu seharusnya tidak berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi komitmen yang diterjemahkan melalui pembangunan yang adil, pelayanan publik yang merata, dan kebijakan yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan generasi muda memiliki ruang untuk mengambil bagian. Kekayaan alam harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Pendidikan harus membuka jalan bagi generasi muda. Infrastruktur harus memperpendek jarak. Teknologi harus membuka akses dan pembangunan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat Papua untuk menjadi pelaku utama di tanahnya sendiri.

Jangan melihat Papua hanya ketika hutannya terbakar lihat pula potensi besar yang dimilikinya. Jangan datang hanya ketika terjadi krisis. Hadirlah untuk membangun sekolah, membuka akses ekonomi, memperkuat masyarakat, menjaga lingkungan, dan menciptakan masa depan. Membuka kesempatan bagi anak Papua berarti memperkuat masa depan bangsa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua berarti memperkuat keadilan sosial yang menjadi cita-cita besar bangsa ini .

Papua juga Indonesia dan masa depan Papua adalah bagian dari masa depan Indonesia.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi