Menimbang-Nimbang Politik Mahasiswa UIN Ar-Raniry; Antara Penyambung Lidah Rakyat dan Representasi Kampus

Oleh Zulfata, M.Ag (Kajian ini disampaikan pada Kuliah Umum Pelantikan Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry)

Jika dalam kancah budaya politik nasional ada guru bangsa menyebut “Djawa adalah koentji”, namun dalam kesempatan ini penulis menyebut mahasiswa adalah koentji. Hal ini bukan soal gagah-gagahan dalam menduplikat istilah, melainkan sejarah pergerakan mahasiwa patut diapreasiasi, terlepas masih ada kekurangan di sana-sininya. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Bung Hatta menegaskan mahasiswa adalah penyabung lidah rakyat serta akal dan sehati dengan rakyat.
Gagasan Bung Hatta tersebut bukanlah sekadar ide dari intelektual menara gading yang terjebak fokus pada riset publikasi internasional namun tak berdampak konkret bagi kemaslahatan rakyat-intelektual terjebak birokratisasi. Sebuah realitas hingga kini masih bersedia “pontang-panting” untuk membela hak-hak dasar rakyat. Mahasiswa masih bersedia mempertaruhkan nyawamnya untuk memitigasi hingga mendobrak “tembok keras” kebijakan yang berpeluang menghimpit kepentingan hajat hidup banyak.

Tak terukur oleh materil jika kita ingin mengungkit jasa mahasiswa, meskipun gerakan mahasiswa bukan untuk diungkit, tetapi untuk dipelajari bagaimana potret gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu, dari masa orde lama, orde baru, refomasi, pascareformasi, reformasi dikorupsi, hingga pada masa neo-liberal bercampur rasa “reingkarnasi orba” seperti yang dipersoalkan republik netizen masa kini.
Secuil dari gerakan masa orde lama, mahasiswa bersinergi dengan rakyat untuk bersama-sama menyokong stabilitas negara yang tak monopoli/manipulatif, mahasiswa berdinamika alot dengan Soekarno sebagai presiden. Terkadang bentrokan gagasan dengan pemimpin negara tak terhindari. Gagasan dan aksi mahasiswa dengan pemerintah menjadikan proses politik Indonesia semakin matang. Mahasiswa aktif berpolitik. Pada masa ini, posisi mahasiswa sejajar dengan partai politik yang tumbuh bagai cendewan dimusim hujan pada waktu itu.

Tokoh-tokoh pemikir dan pergerakan untuk menyelamatkan Indonesia dengan gagah berani menyuarakan aspirasi politiknya melalui partai politik yang masih jauh dari komando personalitas. Nyaris dimasa ini, Presiden Soekarno mendorong mahasiswa untuk aktif berpolitik guna proses pendewasaan politik untuk Indonesia semakin kokoh dan tak mudah dipermainkan oleh pihak yang ingin menjadikan Indonesia sebagai lapak pasar global. Meskipun pada akhirnya Seokarno dengan segala gagasan besarnya dapat digulingkan dari kursi nomor satu di republik ini.

Bergeser pada masa orde baru, militansi mahasiwa terus menerobos di tengah berbagai kungkungan tidak diizinkan “berdiskusi” dan berkonsolidasi, mahasiswa menolak lumpuh, menolak lupa, berbagai peran kaum intelektual kampus terus menemukan jalan alternatifagar birokrasi dan arah kekuasaan tetap waras demi rakyat.

Mahasiswa dan rakyat bersatu dan berbagi peran untuk membangun jembatan politik negara dengan pemerintah di bawah Soeharto. Ada mahasiswa dan kaum intelektual yang berada di samping Soeharto, ada pula mahasiswa-intelektual berada di luar istana. Berbagai produk kebijakan masih dapat dikontrol bahkan ditolak oleh rakyat melalui suara mahasiswa yang menuntut reformasi masa itu.

Jauh sebelum tragedi sepekan sebelum 20 Mei, Presiden Soeharto memberlakukan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) pada tahun 1978 melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak kalangan reformasi di kalangan pemikir dan tokoh pergerakan mahasiswa menilai kebijakan tersebut bertujuan untuk mendepolitisasi lingkungan perguruan tinggi dan melarang mahasiswa terlibat dalam politik praktis guna meredam gerakan perlawanan dan kritik terhadap pemerintah.

Dalam kajian inilah sejatinya kebijakan NKK tahun 1978 tidak boleh dikaburkan dalam materi pendewasaan politik di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa UIN Ar-Raniry. Sehingga mahasiswa bergerak berdasarkan fakta sejarah, rasional melihat tragedi politik negara masa lalu dan tidak polos dan “culun” dalam mengisi pematangan diri saat menyandang mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. Mahasiswa mesti melek sejarah, gesit mencermati politik, dan visioner dalam arah menjaga kemaslahatan rakyat.
Mahasiswa UIN Ar-raniry mesti didorong sadar atas realitas sejarah bangsa, sejarah lokal (filsafat pendidikan tugu Darussalam/spirit didirikannya kopelma Darussalam). Proses pendewasaan politik mahasiswa tidak cukup hanyak berdinamika di internal kampus, karena belantara di luar kampus terkadang jauh lebih jujur dan nyata untuk dijadikan uji kompetensi mahasiswa sebagai maklhuk politik.

Kemudian mahasiswa tidak boleh kerdil menafsirkan atau mencari makna utuh dari apa yang disebut sebagai tridharma perguruan tinggi (pendidikan,penelitian dan pengabdian). Dalam konteks ini,mahasiswa didorong sadar atas bagaimana politisasi yang kini mungkin sedang membelenggu pergeruan tinggi. Kampus takut bersuara, dibungkam dan bahkan kampus terkesan dapat dijadikan sebagai buzer-nya bagi kalangan penguasa tertentu.

Dengan semangat pergerakan politik mahasiswa yang tidak boleh keluar dari apa yang dinalarkan Bung Hatta seperti yang disunggungdi atas, dengan sendirinya pergerakan mahasiswa terus dimonitor, dibentuk, dibenturkan, dibelah dan seterusnya. Mahasiswa bukanlah berkarakter siswa yang hanya dapat diukur dengan sederet anggka atau huruf pada lembaran kertas sebagai syarat administratif untuk melemar pegawai MBG atau Kopdes Merah Putih. Melainkan mahasiwa mesti dipandang atas sejauhmana keberannian untuk merdeka, berinovasi dan rela berkorban untuk kepentingan hajat hidup banyak.
Sebelum kajian ini dilanjutkan, sudah siapkan UIN Ar-raniry memerdekan mahasiswanya sesuai dengan prinsip apa yang diamanahkan oleh Bung Hatta? Hanya suadara-saudara sekalian yang mampu menjawabnya.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi