Penulis: Ibnu Arsib (Pengamat Politik, Hukum dan Sosial)
Pengangkatan Sahat Martin Philip Sinurat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (DPW PSI) Sumatera Utara oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI patut dibaca lebih dari sekadar pergantian struktur organisasi. Keputusan ini memiliki makna politik yang penting, baik bagi masa depan PSI di Sumatera Utara maupun bagi arah keterlibatan generasi muda dalam politik lokal dan nasional.
Dalam praktik kepartaian, penunjukan Plt lazim dilakukan untuk menjaga stabilitas organisasi ketika terjadi kekosongan atau stagnasi kepemimpinan. Namun, dalam konteks partai yang mengusung nilai keterbukaan dan demokrasi internal seperti PSI, pengangkatan Plt juga harus dimaknai sebagai ujian konsistensi ideologis. Apakah mekanisme sementara ini benar-benar diarahkan untuk penguatan partai secara demokratis, atau justru berpotensi menjauhkan kader daerah dari proses pengambilan keputusan?
Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi strategis dalam peta politik Indonesia. Dengan jumlah pemilih besar, keragaman etnis dan agama, serta dinamika politik lokal yang kompleks, wilayah ini menuntut kepemimpinan partai yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan legitimasi politik.
Bagi PSI, Sumatera Utara adalah wilayah yang menyimpan potensi besar sekaligus tantangan berat. Di satu sisi, basis pemuda, kelas menengah, dan masyarakat urban terus tumbuh. Di sisi lain, kompetisi politik masih didominasi oleh partai-partai mapan dengan pola kerja konvensional. Dalam situasi ini, PSI membutuhkan figur pemimpin daerah yang mampu menjembatani idealisme partai dengan realitas politik lokal.
Sahat Sinurat: Aktivis, Pemuda, dan Politik
Penunjukan Sahat Sinurat sebagai Plt Ketua DPW PSI Sumut membawa narasi tersendiri. Sahat dikenal luas sebagai aktivis pemuda nasional dan saat ini menjabat Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) periode 2023–2026. Pengalaman tersebut membentuknya sebagai sosok yang terbiasa memimpin organisasi kader, mengelola perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi lintas daerah dan latar belakang.
Masuknya Sahat ke PSI pada 2024 juga dapat dibaca sebagai upaya partai untuk memperkuat karakter kepemudaannya. PSI sejak awal memposisikan diri sebagai partai anak muda, antikorupsi, dan antielitisme. Namun, tantangan terbesar partai-partai muda bukan hanya pada slogan, melainkan pada kemampuan menghadirkan kepemimpinan yang benar-benar representatif dan partisipatif.
Dalam konteks inilah Sahat Sinurat dihadapkan pada ekspektasi ganda. Di satu sisi, ia harus menjalankan mandat DPP untuk melakukan konsolidasi organisasi. Di sisi lain, ia dituntut untuk menjaga kepercayaan kader daerah agar PSI tidak kehilangan identitasnya sebagai partai yang menghargai aspirasi akar rumput.
Status Pelaksana Tugas sejatinya bersifat sementara. Oleh karena itu, pengangkatan Plt Ketua DPW PSI Sumut harus disertai dengan agenda yang jelas dan terukur menuju kepemimpinan definitif. Tanpa peta jalan yang transparan, posisi Plt justru berpotensi menimbulkan ketidakpastian politik di internal partai.
PSI perlu memastikan bahwa mekanisme musyawarah wilayah, rekrutmen kepemimpinan, dan pengambilan keputusan strategis tetap melibatkan kader secara luas. Demokrasi internal bukan sekadar prosedur organisasi, melainkan fondasi moral bagi partai yang ingin tampil berbeda dari praktik politik lama yang elitis dan tertutup.
Di sinilah peran Sahat Sinurat menjadi krusial. Kepemimpinan Plt tidak cukup hanya menjalankan administrasi, tetapi harus mampu membuka ruang dialog, menyerap kritik internal, serta menjadikan struktur partai di Sumatera Utara lebih hidup dan responsif.
Politik dan Ajakan bagi Pemuda Sumatera Utara
Lebih jauh, pengangkatan Sahat Sinurat juga membawa pesan penting bagi pemuda Sumatera Utara. Selama ini, banyak anak muda memandang politik sebagai arena yang kotor, penuh intrik, dan jauh dari nilai idealisme. Akibatnya, politik sering ditinggalkan atau hanya disikapi secara apatis.
PSI memiliki peluang untuk mematahkan stigma tersebut. Dengan figur pemimpin daerah berlatar aktivisme pemuda, PSI dapat menjadi ruang pembelajaran politik yang sehat—tempat gagasan, kritik, dan idealisme mendapatkan tempat. Pemuda tidak lagi hanya dijadikan objek kampanye, tetapi subjek utama dalam merumuskan arah politik.
Ajakan kepada pemuda Sumatera Utara untuk bergabung dan terlibat di PSI harus dimaknai sebagai ajakan untuk mengambil alih masa depan politik, bukan sekadar menjadi penonton. Politik yang bersih, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik hanya mungkin terwujud jika diisi oleh generasi muda yang berani masuk, belajar, dan berjuang dari dalam.
Keterlibatan pemuda dalam PSI tidak harus selalu dimulai dari jabatan struktural. Ia bisa dimulai dari ruang diskusi, kerja-kerja advokasi kebijakan, pendampingan masyarakat, hingga partisipasi dalam penyusunan agenda politik daerah. Dengan demikian, PSI tidak hanya berfungsi sebagai mesin elektoral, tetapi juga sebagai sekolah politik bagi generasi muda.
Jika Sahat Sinurat mampu memanfaatkan momentum kepemimpinannya untuk membuka ruang partisipasi yang luas, maka PSI Sumatera Utara dapat tumbuh sebagai model partai modern—partai yang tidak alergi terhadap kritik dan tidak takut pada gagasan baru.
Pada akhirnya, pengangkatan Sahat Sinurat sebagai Plt Ketua DPW PSI Sumut harus dilihat sebagai titik awal pembenahan, bukan tujuan akhir. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh komitmen terhadap demokrasi internal, transparansi organisasi, dan keberpihakan nyata pada kader serta pemuda.
Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk melahirkan pemimpin-pemimpin muda berkualitas. PSI, dengan segala kekuatan dan keterbatasannya, memiliki kesempatan untuk menjadi wadah bagi lahirnya kepemimpinan tersebut. Namun kesempatan itu hanya akan bermakna jika dijalankan dengan konsistensi nilai dan keberanian untuk berbeda dari politik lama.
Bagi pemuda Sumatera Utara, inilah saatnya berhenti mengeluh tentang politik dan mulai ikut menentukan arahnya. Politik masa depan tidak akan datang dengan sendirinya—ia harus diperjuangkan, dan ruang itu terbuka di depan mata.





















































Leave a Review