Oleh Zulfata (Ketua Umum DPP Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh/AMMPA)
Dunia politik lintas negara hari ini mengincar kekuatan pemuda, meyiapkan skema dan sistem pengkaderan menyambut bonus demografi. Setiap partai politik di berbagai negara terus berupaya membuka ruang politik agar anak muda dapat menjadi pelanjut politik dalam bentuk kaderisasi menurut gaya politiknya masing-masing. Bonus demografi memang diyakinkan memiliki kekuatan, melalui gerakan dan pembinaan politik terhadap generasi muda dimungkinkan lebih dominan menebar politik harapan meskipun tantangan mengelola potensi anak muda tidakn semudah membalik telapak tangan.
Di beberapa negara merasakan langsung dampak perubahan yang melibatkan kekuatan pemuda. Apakah itu bersifat daya dobrak kebijakan maupun daya suara dari khalayak muda. Secara demografi pun kuantitas anak muda lebih dominan dari pada “generasi lanjut”. Di waktu bersamaan, bayangan kaum politik senior alias politisi elite dan mafia bisnis tak melepas seutuhnya terhadap arah main politik adak muda. Dalam konteks inilah arah politik generasi muda mesti memiliki induk melalui proses mentoring berkelanjutan sambil berproses menempa mental, pengalaman, cakrawala dan sikap politik yang adaptif-kompromis dalam mewujudkan tuntutan kerakyatan.
Hadirnya Angkatan Muda Mudi Perjuangan Aceh (AMMPA) memiliki spirit yang selaras dengan hal tersebut di atas. AMMPA tidak dapat dilihat hanya sebatas sayap partai politik sebagai pelanjut estafet kepemimpinan Partai Perjuangan Aceh (PPA), melainkan sebagai wadah juang bagi generasi muda Aceh yang muak dengan sandiwara politik Aceh belakangan ini. Aceh terus mengalami kemunduran setelah peristiwa damai Aceh. Yang diharapkan dari buah perdamaian agar terjadinya percepatan kesejahteraan dan keadilan rakyat Aceh di level lokal, justru yang terjadi adalah kompleksitas konflik interes-duri dalam daging bagi rakyat Aceh sendiri. Akumulasi politik kondisi ini tampak melalui buntunya arah politik transparansi dan kredibelitas dalam membangun Aceh selama 20 tahun belakangan. Tarik ulur konflik interes antara pemerintah pusat dan daerah seakan terus melilit leher dan perut rakyat, baik dari sisi kekinian terkait lambannya penanganan pemulihan bencana ekologis Aceh, hingga lemahnya kepastian keadilan hukum dan energi yang benar-benar berpihak pada dominan aspirasi rakyat Aceh. Pada posisi ini, rakyat Aceh mengalami transisi politik, keluar dari mulut harimau, mengarah masuk ke mulut buaya, kepemimpinan politik semakin tak menentu. Gimmick politik Pemerintah Aceh nyaris tak mengarah pada pembuktian keadilan bagi seluruh rakyat Aceh. Hingga hari ini, belum ada upaya solutif-progresif dalam meningkatkan daya beli masyarakat Aceh. Hingga saat ini, belum ada upaya serius pemberantasan korupsi di Aceh, hingga kini, belum ada arah tugas pro masyarakat miskin dan menganggur bagi fungsi parlemen Aceh (DPRA). Justru yang terjadi adalah koncoisme Pemerintah Aceh-DPRA yang kemudian mendominasinya praktik penyalahgunaan kekuasaan yang semakin mengkhawatirkan masa depan Aceh.
Atas dasar itulah, lintas pemuda, mahasiswa, santri dan pelaku seni dan ekonomi kreatif yang progresif terus bergabung bersama AMMPA, menjadi bagian untuk terus menempa kepemimpinan dalam laboratorium politik khas anak muda yang ingin mendobrak dan mengurai benang kusut politik sebagai penyakit utama yang menyebabkan Aceh sulit bangkit dari keterpurukannya.
Anak-anak muda yang bersarang di AMMPA memiliki tekad kuat sembari menebar harapan bahwa Aceh tidak boleh dibiarkan sedemikian rupa; Aceh tidak boleh selamanya menjadi tuan rumah di tanahnya yang kaya raya. Aceh tidak boleh dibiarkan dipermainkan oleh pihak-pihak yang hanya memperkaya keluarganya sendirI. Aceh sedemikian harus diinstal ulang, dirombak total melalui gerakan politik anak muda yang progresif, gandrung keadilan dan kesejahtraan masyarakat.
Untuk menuju ke arah tersebut, AMMPA terus berusaha menjaga kepercayaan publik bahwa politik anak muda mampu memberikan bukti nyata bagi rakyat Aceh. Hal ini dapat dicerminkan melalui gagasan politik, program kegiatan hingga rajutan relasi internasional yang terus dibangun melalui koneksi politik yang sudah dibuka aksesnya oleh seorang akademisi sekaligus pengusaha yang bernama Prof. Marniati.
Tampaknya, memang terdapat pembagian tugas yang berbeda antara Partai Perjuangan Aceh (PPA) dengan AMMPA, partai lebih mengedepankan soft diplomasi politik sembari menyokong dari belakang. Selanjutnya, AMMPA bergerak di depan, menerobos, mendobrak kebuntuan politik, pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang sedang dialami Aceh. AMMPA mesti tampil sebagai ujung tombak perbaikan politik Aceh masa depan. AMMPA menolak lupa atas berbagai kejadian yang menempa Aceh, mulai masa kerajaan, konflik, bencana hingga pasca MoU Helsinki. AMMPA sadar betul bahwa Aceh hari ini jauh bergerak mundur ke belakang, namun semua itu butuh daya juang kolektif bersama rakyat dan mendapat dukungan penuh dari morak kerakyatan. AMMPA mengambil peran dan langkah kongkret untuk memimpin publik Aceh ke arah yang rasional dan sinergi untuk sama-sama menyelamatkan Aceh dengan beberapa kekhususan politik yang masih tersisa.
Tentu semua itu bukan berarti AMMPA merasa yang paling power di Aceh, paling tidak AMMPA punya nyali berkata lantang dan tegas menentang segala bentuk manipulasi dan pembodohan atas nama kepentingan rakyat Aceh. Pencerdasan politik dan konsolidasi kewarasan berpolitik adalah ciri perjuangan politik anak muda di AMMPA.
Sebagai pemimpin di AMMPA, saya yakin dengan komitmen semua kader dan pengurus di seluruh Aceh maupun luar wilayah Aceh tidak pernah letih berjuang agar tetap membenahi perpolitikan Aceh melalui sektor keahlian masing-masing dalam rangka menjawab tantangan rakyat Aceh. Pergerakan AMMPA ibarat bola salju yang terus menggelinding menuju tampuk kekuasaan sambil membuktikan AMMPA benar-benar layak disebut sebagai penyambung lidah dan hati nurani rakyat. Jika AMMPA ditekan, maka akan terua melawan, sebab AMMPA tidak pernah melupakan apa itu artinya “pemberontakan” yang tergariskan dalam catatan heroik sejarah Aceh.
Untuk itu, AMMPA tidak menutup ruang dialog dan kolaborasi antar pihak, baik perintah dalam negeri maupun luar negeri. Sebab sikap politik AMMPA memegang teguh bahwa memanusiakan manusia adalah prinsip hidup yang mulia, manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi umat manusia. Membiarkan pemimpin manipulatif melenggang begitu saja adalah suatu penicu amarah bagi AMMPA, pembakar api semangat bagi pergerakan perkaderan AMMPA. Kebatilan mesti dilawan. Pencerdasan harus terus menyala. Kemakmuran dan keadilan rakyat adalah suatu yang tak bisa ditawar oleh apapun bagi kader-kader AMMPA yang berkakter visioner keacehan yang rasional serta berwawasan global. Panjang umur perjuangan!





















































Leave a Review