*Liputan Reza Irawan Syah Putra (Kepala Biro Katacyber.com Aceh Tenggara)
Sebuah operasi senyap yang dibalut narasi kemajuan kini tengah berlangsung. Universitas Gunung Leuser (UGL), sebuah institusi yang rekam jejaknya diselimuti kabut tebal kontroversi dan dugaan kebobrokan sistemik, kini dengan percaya diri melobi untuk mengubah statusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Liputan investigasi ini dengan tegas mempertanyakan; apa jadinya sebuah kampus negeri jika ia lahir dari rahim institusi yang diduga kuat penuh dengan praktik manipulatif?
Ini bukan tentang kemajuan, ini tentang potensi kamuflase skandal menggunakan stempel dan dana negara. Wacana penegerian UGL adalah sebuah anomali berbahaya. Bagaimana bisa sebuah lembaga yang namanya terus-menerus terseret dalam isu jual beli nilai, perjokian skripsi, dan tata kelola yang jauh dari transparan, justru didorong untuk menjadi etalase pendidikan milik publik?
Upaya ini terlihat bukan sebagai itikad untuk reformasi, melainkan sebagai jalan pintas manipulatif untuk mendapatkan legitimasi instan, menyedot dana APBN, dan secara efektif “mencuci dosa” masa lalu di bawah bendera negara. Menegerikan UGL dalam kondisinya saat ini sama saja dengan menyerahkan kunci brankas negara kepada entitas yang integritasnya diragukan.
Jika skenario ini terwujud, kita akan menyaksikan lahirnya sebuah monster baru dalam ekosistem pendidikan nasional. Sebuah PTN yang fondasinya rapuh, dibangun di atas kultur akademik yang korup, akan menjadi preseden buruk yang mematikan. Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk mencetak generasi unggul justru akan tersedot untuk menghidupi sistem yang cacat. Ini adalah bentuk pengkhianatan intelektual yang paling nyata, di mana status “negeri” yang sakral hanya menjadi tameng untuk melanjutkan praktik-praktik manipulatif yang sudah mengakar.
Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan seluruh pemangku kebijakan untuk tidak membiarkan praktik buruk tersebut meraja lela di UGL.
Kementerian terkait didesak untuk lakukan audit investigatif total dan independen serta transparan terhadap seluruh aspek akademik dan non-akademik di UGL. Libatkan partisipasi publik, mahasiswa, dan alumni untuk membongkar tuntas segala dugaan yang ada, sebelum satu sen pun uang rakyat dipertaruhkan untuk proposal manipulatif ini.
Jangan biarkan ambisi segelintir elite mengorbankan masa depan pendidikan di Aceh Tenggara dan mencoreng wajah pendidikan tinggi Indonesia. Membersihkan UGL dari segala penyakit kronisnya adalah prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Sebelum berani bermimpi menjadi negeri, UGL harus terlebih dahulu membuktikan bahwa ia layak disebut sebagai institusi pendidikan yang jujur dan bersih. Karena sejatinya, integritas tidak bisa dinegosiasikan, apalagi dimanipulasi.






















































Leave a Review