Katacyber.com | Rikit Gaib – Jalur utama penghubung Kabupaten Gayo Lues–Takengon kembali menjadi sorotan. Kondisi jalan yang berada di Kampung Tungel Baru, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues, terus dilanda longsor setiap hujan turun, Jumat (26/12/2025).
Pantauan di lapangan menunjukkan material longsor berupa tanah, batu, dan lumpur kerap menutup sebagian badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas terganggu, kendaraan harus bergantian melintas, bahkan tidak jarang terjadi kemacetan panjang.
Bagi masyarakat Gayo Lues, jalur ini merupakan urat nadi utama perekonomian dan mobilitas, mulai dari distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Ironisnya, kondisi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan komprehensif. Setiap kali longsor terjadi, langkah yang diambil sebatas pembersihan material dari badan jalan.
Setelah itu, persoalan dianggap selesai—hingga hujan berikutnya kembali memicu longsoran serupa. Tidak terlihat adanya upaya mitigasi jangka panjang seperti penguatan tebing, pembangunan drainase yang memadai, atau rekayasa lereng untuk mencegah longsor susulan.
“Situasi ini bukan lagi kejadian insidental, melainkan pola berulang yang kian mengancam keselamatan pengguna jalan serta melumpuhkan aktivitas masyarakat. Material longsor di titik ini seperti tamu wajib setiap hujan turun,” ujar salah seorang warga Kampung Tungel Baru.
Ia menuturkan bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan ketidakpastian saat melintas jalur tersebut, terutama pada malam hari dan saat curah hujan tinggi.
“Kami selalu khawatir, bukan hanya soal terhambat, tapi juga soal keselamatan,” tambahnya.
Desakan agar pemerintah bertindak lebih serius pun semakin menguat. Masyarakat meminta dinas terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk segera melakukan langkah mitigasi yang terencana dan berbasis kajian teknis.
Penanganan longsor dinilai tidak cukup hanya dengan alat berat yang datang setelah kejadian, melainkan membutuhkan kebijakan preventif yang berkelanjutan.
Tokoh pemuda setempat, Syahputra Ariga, menilai pemerintah selama ini cenderung reaktif, bukan antisipatif.
“Pertanyaannya sederhana, apakah harus menunggu longsoran yang lebih besar dulu, atau bahkan memakan korban, baru dilakukan perbaikan serius?” ujarnya dengan nada kritis.
Menurutnya, jalur Gayo Lues–Takengon memiliki peran strategis dan tidak seharusnya dibiarkan dalam kondisi rawan secara terus-menerus.
Ia juga menekankan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar kewajiban teknis, melainkan tanggung jawab moral pemerintah terhadap keselamatan rakyat.
“Setiap pengendara yang melintas di jalur ini mempertaruhkan nyawanya. Negara tidak boleh abai,” tegasnya.
Kondisi geografis Gayo Lues yang didominasi kawasan perbukitan memang memiliki kerentanan tinggi terhadap longsor, terutama di musim hujan. Namun, justru karena fakta tersebut, perencanaan infrastruktur semestinya disertai dengan analisis risiko bencana yang matang.
Penguatan lereng, penanaman vegetasi penahan tanah, serta sistem drainase yang baik adalah langkah-langkah dasar yang seharusnya segera direalisasikan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak lagi memandang persoalan longsor ini sebagai rutinitas musiman yang lumrah. Jika dibiarkan berlarut, bukan hanya kerugian ekonomi yang akan terus terjadi, tetapi juga potensi hilangnya nyawa.
Jalur Gayo Lues–Takengon bukan sekadar jalan penghubung antarwilayah, melainkan jalur kehidupan bagi ribuan warga.
“Kini, bola ada di tangan pemerintah. Apakah akan terus menunggu bencana yang lebih besar, atau segera bertindak untuk mencegahnya? Masyarakat Rikit Gaib dan pengguna jalan lainnya menunggu jawaban nyata, bukan sekadar janji.” tutup Syahputra.























































Leave a Review