Oleh: Tara Farihal
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Blangpidie
Milad KOHATI bukan sekadar peringatan bertambahnya usia organisasi, melainkan momentum untuk kembali merefleksikan sejarah, perjuangan, dan alasan mengapa KOHATI dilahirkan. Sebab, memahami sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menemukan arah perjuangan yang harus terus dihidupkan pada hari ini dan di masa mendatang.
KOHATI (Korps HMI-Wati) resmi berdiri pada 17 September 1966 dalam Kongres VIII HMI di Solo. Kehadirannya lahir dari kesadaran akan pentingnya ruang pembinaan dan pengembangan potensi HMI-Wati secara lebih khusus. Di tengah dinamika organisasi, kehidupan bangsa, dan perkembangan gerakan perempuan, tumbuh kesadaran bahwa HMI-Wati tidak cukup hanya menjadi bagian dari proses kaderisasi, tetapi juga harus mampu tampil sebagai subjek yang memiliki kapasitas, kesadaran, dan peran dalam perjuangan.
Bagi saya, semangat awal inilah yang harus terus kita hidupkan. KOHATI bukanlah ruang yang dibentuk untuk memisahkan perempuan dari HMI, melainkan bagian dari ikhtiar untuk memperkuat tujuan perjuangan HMI melalui peningkatan kualitas HMI-Wati. Sebagaimana tujuan KOHATI, yakni terbinanya Muslimah berkualitas Insan Cita, kader KOHATI dituntut untuk terus mengembangkan kapasitas diri, memperkuat karakter, serta menumbuhkan kesadaran untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hari ini, setelah enam dekade berdiri, tantangan yang dihadapi perempuan terus berkembang. Perubahan teknologi, dinamika sosial, persoalan pendidikan dan ekonomi, kepemimpinan, hingga berbagai persoalan perempuan di tengah masyarakat menuntut hadirnya kader yang mampu memahami realitas dan meresponsnya secara kritis. Karena itu, KOHATI tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar merawat rutinitas organisasi. KOHATI harus menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan perempuan berilmu, berkarakter, mandiri, berani menyampaikan gagasan, serta mampu mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan di sekitarnya.
Menurut saya, kontribusi KOHATI terhadap HMI tidak cukup diukur dari banyaknya kader perempuan yang pernah menduduki posisi kepemimpinan. Lebih dari itu, kontribusi tersebut tercermin dari kualitas kader yang tumbuh, gagasan yang dihadirkan, dan pengabdian yang diberikan. Ketika HMI-Wati memiliki kapasitas dan kesadaran perjuangan, manfaatnya tidak hanya dirasakan di lingkungan internal organisasi, tetapi juga dapat menjangkau kampus, keluarga, masyarakat, dan berbagai ruang pengabdian lainnya.
Oleh karena itu, KOHATI hari ini harus terus menghadirkan ruang yang bermakna: ruang untuk belajar, berdiskusi, memimpin, berkolaborasi, mengembangkan keterampilan, dan mengabdi. Setiap kader memiliki proses, potensi, dan jalan pengembangannya masing-masing. Tidak semua kader harus selalu berada di barisan terdepan, tetapi setiap kader berhak mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh dan berkontribusi. Tanggung jawab KOHATI adalah memastikan bahwa potensi tersebut tidak terabaikan, melainkan diarahkan menjadi kekuatan yang bermanfaat bagi organisasi dan masyarakat.
Pada akhirnya, Milad KOHATI bukan hanya tentang berapa usia yang telah dilewati, tetapi juga tentang sejauh mana nilai-nilai perjuangan mampu diteruskan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sejarah telah memberikan alasan mengapa KOHATI dilahirkan, sedangkan generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar semangat tersebut tetap hidup dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Perempuan berdaya bukan hanya perempuan yang mampu mengembangkan kapasitas dirinya, tetapi juga perempuan yang memiliki kesadaran untuk menghadirkan manfaat bagi sekitarnya. Dalam semangat itulah, KOHATI harus terus bertumbuh sebagai ruang pembinaan, perjuangan, dan pengabdian yang mendorong lahirnya perempuan-perempuan berkualitas Insan Cita.
Selamat Milad KOHATI. Terus bertumbuh, terus bersinergi, dan terus menjadi bagian dari perjuangan.
Bahagia HMI, Jayalah KOHATI!























































Leave a Review