Literasi Digital: Keharusan, Bukan Pilihan

Oleh : danu abian Latif
Penulis buku opini nakal untuk indonesia

Ibarat gelombang pasang teknologi perubahan tidak dapat terbendung. Seiring dengan perubahan zaman kita juga perlu mengembangkan keterampilan literasi digital untuk menavigasi lanskap informasi yang terus berubah, meskipun ada beberapa inovasi yang tidak terduga, kemajuan teknologi terjadi cukup cepat.

Menurut saya, dalam beberapa tahun terakhir, smart phone telah berubah dari perangkat komunikasi menjadi asisten pribadi berbasis kecerdasan buatan. Nantinya, bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi percepatan disinformasi yang lebih parah? Kemajuan teknologi yang pesat memunculkan berbagai peluang dan tantangan baru.

Berdasarkan Digital News Report 2023 yang disampaikan Nic Newman, persentase responden yang mengakses berita melalui website atau aplikasi media turun menjadi 22%. Sejumlah besar pengguna telah mengadopsi istilah “pintu samping” melalui media sosial, mesin pencari, dan agregator berita (Newman, 2023). Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat umum tidak begitu tertarik pada media primer, namun lebih tertarik pada konten yang disesuaikan dengan preferensi pribadinya.

Kondisi ini berpotensi terjadi kekeliruan dalam menerima informasi, oleh karena itu literasi digital bukan hanya sekedar membaca dan memahami berita hal ini juga melibatkan evaluasi sumber informasi dan penggunaan teknologi sedemikian rupa sehingga mencegah bias dalam informasi.

Menurut penelitian yang sama, 36% responden sengaja menghindari berita, sebagian besar karena dianggap negatif dan berdampak negatif terhadap kesehatan mental (Newman, 2023). News avoidance ini menjadi alasan perlunya untuk meningkatkan literasi digital.

Kondisi ini menyoroti perkembangan baru dalam ekosistem digital, dimana kelebihan informasi dapat menyebabkan kelelahan informasi. Literasi digital yang efektif tidak hanya mengajarkan masyarakat bagaimana menemukan informasi yang dapat diandalkan, namun juga membantu masyarakat membuat pilihan yang sehat dalam hal konsumsi media.

Literasi digital kini menjadi suatu keharusan, tidak terkecuali. Tanpa keterampilan ini, kita berisiko mengalami disinformasi dan menjadi lambat di perkembangan dunia yang begitu cepat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendidikan untuk bekerja sama dalam mendorong literasi digital.

Banyak pekerjaan manual telah digantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan, sementara pekerjaan yang memerlukan kreativitas dan pemikiran kritis menjadi semakin umum. Literasi digital memungkinkan kita untuk terus terlibat dan tetap relevan di tempat kerja, seperti ketika karyawan harus memahami perangkat lunak berbasis AI.

Selain itu, dengan semakin berharganya data pribadi di dunia digital, kita harus menyadari betapa pentingnya melindungi informasi pribadi kita. Masyarakat harus secara aktif berupaya meningkatkan literasi digital, terutama dengan mendidik diri mereka sendiri tentang teknologi baru atau kelompok rentan seperti lansia. Penyuluhan kampanye melalui tokoh masyarakat atau influencer mungkin bisa menjadi solusi efektif agar kita selalu mendapat informasi pentingnya menjaga data pribadi.

Secara umum, memang tidak semua orang memiliki akses terhadap teknologi dan internet. Hal ini merupakan kejadian nyata, khususnya di wilayah pedesaan dan terpencil. Namun upaya pemerintah untuk meningkatkan akses internet dan menciptakan “masyarakat digital” patut dikritisi. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan swasta harus terjalin. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berpartisipasi dalam pendidikan literasi digital inklusif.

Mendekati tahun 2025, budaya digitalisasi tidak bisa ditunda. Sebagai masyarakat, kita harus mengambil langkah nyata untuk merencanakan tantangan-tantangan yang belum dimanfaatkan ini. Pertama-tama, percaya bahwa pemerintah harus segera memasukkan pendidikan terkomputerisasi ke dalam program pendidikan resmi dan mempersiapkan komunitas yang tidak dapat diakses sehingga mereka tidak ketinggalan. Selain itu, pendidikan instruktif juga harus memasukkan pelatihan pendidikan lanjutan ke dalam program pembelajaran siswa untuk merencanakan siswa menghadapi dunia maju yang selalu berubah.

Penting juga, setiap orang juga harus secara proaktif belajar bagaimana memastikan informasi individu, mengkonfirmasi data yang mereka peroleh, dan terus mempertajam keterampilan komputerisasi mereka. Dengan begitu, siap untuk tidak sekedar bertahan, namun terlebih lagi bersaing di dunia yang semakin digital. Kesimpulannya, kemahiran komputerisasi adalah landasan paling kuat yang mendukung kita dalam menghadapi gelombang gangguan inovatif yang semakin tiada henti.

Kemahiran digitalisasi tingkat lanjut bukan sekedar alat untuk bertahan hidup, namun juga kunci untuk membuka peluang dan menghadapi tatanan dunia yang berubah dengan cepat. Dengan kemampuan digital yang kuat, kita bisa menjadi pemain besaruntuk bersaing di era digitalisasi ini, terlepas dari baik atau buruknya, suka atau tidak suka kita harus membiasakan diri dan harus beradaptasi dengan cara literasi digital.

KataCyber adalah media siber yang menyediakan informasi terpercaya, aktual, dan akurat. Dikelola dengan baik demi tercapainya nilai-nilai jurnalistik murni. Ikuti Sosial Media Kami untuk berinteraksi